Damaskus, LiputanIslam.com –  Belakangan ini media diramaikan oleh rencana serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Suriah dan Lebanon. Tentang ini, pakar politik ketua Media Focal Center, Salim Zahran, mengatakan kepada Sputnik milik Rusia bahwa dia telah menemui sejumlah pejabat resmi Suriah.

Seperti dilansir al-Alalam, Selasa (20/3/2018), Zahran mengatakan bahwa penduduk Damaskus  tetap menjalankan kegiatan sehari-harinya secara normal, sedangkan pemerintah menyikapinya dengan dua skenario. Pada skenario pertama, ancaman itu dipandang serius dan bisa jadi akan dilakukan setelah pertemuan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman dengan Presiden AS Donald Trump.

“Pada skenario pertama Suriah, Rusia dan sekutu keduanya telah memetakan reaksi mereka di mana kali ini tidak akan menyasar ISIS, Jabhat al-Nusra dan peralatan tempur AS di lapangan, melainkan juga akan menyasar langsung pangkalan-pangkalan militer AS di Suriah.  Rudal-rudal khusus bahkan akan digunakan untuk menyerang kapal selam AS,” terangnya.

Sedangkan pada skenario kedua di mana ancaman itu dipandang sebatas gertakan atau bagian dari perang urat saraf, Presiden Suriah Bashar Assad antara lain telah mereaksinya dengan kepergiannya ke Ghouta Timur dengan menyetir mobil sendiri tanpa pengawalan.

Mengenai sikap Rusia terhadap perkembangan tersebut, Zahran mengatakan bahwa sikap Rusia dalam hal ini sudah terbuka, yaitu ketika Rusia menyatakan bahwa beberapa kapal selam AS bergerak di Laut Tengah membawa rudal cruise.

“Ini merupakan isyarat kepada AS, ‘Kami memantau apa yang kalian lakukan,’ karena itu pergerakan tersebut akan menjadi sasaran,” ujarnya Zahran.

Selain itu, lanjutnya, pangkalan-pangkalan AS di utara dan timur Suriah juga terjangkau oleh rudal-rudal Suriah. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*