Washington, LiputanIslam.com – Para pejabat Amerika Serikat (AS) menyatakan negaranya berencana mempertahankan sekira 1000 tentaranya di Suriah, menurut surat kabar The Wall Street Journal.

Surat kabar ini, Ahad (17/3/2019), mengutip pernyataan para pejabat AS yang tidak disebutkan namanya bahwa militer AS berencana mempertahankan hampir 1000 personilnya di Suriah, sehingga menjadi sebuah perubahan sikap yang terjadi tiga bulan setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan penarikan pasukan secara total di Suriah.

Pada 19 Desember 2018, Trump mengumumkan keputusan penarikan 2000 pasukan negaranya dari Suriah, namun tanpa jadwal yang jelas, dan sembari berdalih dengan klaim bahwa AS telah berhasil mengalahkan kelompok teroris ISIS.

Pada 22 Februari, Gedung Putih mengumumkan bahwa pasukan AS “penjaga perdamaian” yang berjumlah sekitar 200 personil akan dipertahankan selama beberapa waktu di Suriah setelah penarikan.

Beberapa hari setelah keputusan tersebut Trump mengaku berencana mempertahankan 400 tentara AS dengan penempatan yang dibagi antara daerah aman yang dinegosiasikan di Suriah timur laut  dan pangkalan AS di Al-Tanf dekat perbatasan Suriah dengan Irak dan Yordania.

Sementara itu, Kepala Staf Umum Angkatan Iran, Mayjen Mohammad Baqeri, Minggu, menekankan keharusan penarikan pasukan asing dari wilayah Suriah, dan bahwa pasukan yang hadir tanpa koordinasi dengan pemerintah  cepat atau lambat akan keluar.

Dia mengatakan, “Masalah ini akan ditekankan dalam pertemuan segi tiga Iran, Suriah dan Irak. Sebagaimana pasukan Iran hadir atas undangan resmi pemerintah Suriah, kehadiran pasukan negara lain juga harus melalui koordinasi dan otorisasi dari pemerintah Suriah.” (mm/raialyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*