Iran-saudiRiyadh, LiputanIslam.com – Pemerintah Arab Saudi menyatakan siap berunding dengan Iran untuk memperbaiki hubungan bilateral kedua negara. Hal ini dikemukakan Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi, Saud al-Faisal, kepada wartawan di Riyadh.

Dia juga menyebutkan bahwa dalam rangka ini pihaknya telah mengirim undangan kepada sejawatnya di Iran, Mohammad Javad Zarif, supaya berkunjung ke Riyadh.

“Iran adalah negara jiran, kami memiliki hubungan dengan mereka dan kami akan berunding dengan mereka,” ujar al-Faisal, seperti dikutip Press TV Selasa (13/5/2014). Dia menambahkan, “Kami akan mengadakan pembicaraan dengan mereka dengan harapan bahwa jika ada perbedaan pendapat maka akan diselesaikan dengan cara yang dapat memuaskan kedua negara.”

Menurut al-Faisal, sejauh ini belum ada respon atas undangan itu dari sejawatnya di Iran, namun Riyadh siap menerima kedatangannya kapan saja. “Kami siap menerima kedatangannya kapanpun dia merasa berkesempatan untuk datang,” ungkap dia.

Tanggal 3 Maret lalu, dalam pertemuan dengan Duta Besar Saudi untuk Iran, Abdulrahman bin Gharman al-Shiri, di Teheran Presiden Iran Hassan Rouhani menekankan pihaknya sangat mementingkan penguatan hubungan dengan negara-negara Muslim regional. Rouhani juga menegaskan bahwa kerjasama antara Teheran dan Riyadh akan sangat vital bagi keamanan regional.

“Interaksi dan kerjasama antara Iran dan Saudi,” ujar Rouhani, “tak diragukan lagi akan berperan efektif bagi stabilitas dan keamanan seluruh kawasan (Timur Tengah).”

Hal senada juga dikemukakan Menlu Iran kepada wartawan di sela-sela Konferensi Keamanan Munich (MSC) pada Februari lalu. Dia menegaskan perlunya peningkatan kerjasama Iran-Arab Saudi dengan tujuan memulihkan keamanan Timur Tengah. Dia menambahkan bahwa Teheran dan Riyadh perlu mengupayakan tujuan bersama berupa pembentukan komunitas keamanan regional.

Iran dan Saudi terlibat perselisihan pendapat menyangkut sejumlah isu regional, termasuk krisis Suriah dan gejolak politik di Bahrain. Teheran mengecam dukungan Riyadh kepada cara pemerintah Bahrain yang dinilai Teheran berlebihan dan represif dalam menyikapi unjuk rasa damai rakyat Bahrain.

Sedangkan mengenai krisis Suriah, Riyadh memilih membeking milisi pemberontak di saat Iran berulangkali menegaskan bahwa krisis Suriah harus diselesaikan dengan pendekatan diplomatik.

Lebih jauh, para pejabat Riyadh dalam berbagai kesempatan juga menunjukkan sikap oposan terhadap kesepakatan sementara antara Iran dan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) plus Jerman (5+1) yang telah dicapai pada November tahun lalu berkenaan dengan proyek nuklir Iran. (mm/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL