iraq-bombingBaghdad, LiputanIslam.com – Sedikitnyai 1,009 orang tewas dan 1,375 lainnya menderita luka-luka akibat gelombang kekerasan yang melandai Irak sepanjang April 2014. Demikian disebutkan dalam data resmi yang dirilis pemerintah Irak Kamis kemarin (1/5/2014).

Menurut data ini, korban tewas dari kalangan warga sipil sebanyak 881 orang, polisi 52 orang dan tentara 76 orang. Dengan demikian, bulan lalu merupakan bulan paling berdarah di Irak sejak tahun 208.

Laporan lain dari Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Irak (UNAMI) menyebutkan jumlah korban tewas selama April lalu 750 orang, sedangkan korban luka 1,541 orang. Namun, data UNAMI tidak mencakup korban tewas di wilayah barat provinsi Anbar di mana tentara Irak terlibat pertempuran sengit melawan milisi cabang al-Qaeda sejak Desember tahun lalu.

Sementara itu, Nikolay Mladenov, Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon Kamis kemarin menyerukan kepada Baghdad supaya menggunakan “pendekatan holistik” dalam menangani kekerasan di negara ini.

“ Sekali lagi saya menekankan perlunya persatuan dan pendekatan holistik dalam penanganan kekerasan di Irak,” ungkap Mladenov. Dia menambahkan bahwa perdamaian hanya dapat dicanangkan melalui kombinasi operasi keamanan yang efektif, partisipasi politik dan kebijakan sosial yang inkulisif.

Data terbaru dirilis pemerintah Irak sehari setelah pemilu parlemen sukses diselenggarakan untuk pertama kalinya sejak tentara Amerika Serikat ditarik dari Irak pada tahun 2011. Dalam jumpa pers Kamis kemarin Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki menyebut kesuksesan pemilu ini sebagai tamparan bagi orang-orang yang ingin mengusik pemilu.

“Dengan jari ungu ini kita telah menampar (para pelaku) peledakan, dan aparat keamanan telah berhasil mencegah keinginan kawanan bersenjata untuk menyerang tempat-tempat pemungutan suara,” ujar al-Maliki.

Dia memastikan pemilu telah berlangsung transparan dan aman dari tindakan-tindakan manipulasi yang berarti. Menurut dia, dengan pemilu ini Irak telah mengakhiri lembaran sejarah lama dan menyongsong lembaran baru.

Maret lalu Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki menuding Arab Saudi dan Qatar bertanggungjawab atas krisis keamanan dan merebaknya terorisme di Irak. Dia juga menyebut rezim Arab Saudi sebagai pendukung utama terorisme global. (mm/presstv/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL