Sanaa, LiputanIslam.com –  Kelompok pejuang Ansarullah Yaman (Houthi) mengajak aliansi Arab pimpinan Kerajaan Arab Saudi yang menyerang Yaman menandatangani perjanjian “gencatan senjata kongkret” yang mengikat semua pihak untuk berhenti berperang selama bulan-bulan haram, yaitu bulan-bulan yang dimuliakan dalam al-Quran sehingga umat Islam dilarang berperang kecuali diserang.

Ajakan seperti ini merupakan yang pertama kali di tengah eksalasi pertempuran di sejumlah front di Yaman dan kawasan perbatasan negara ini dengan Arab Saudi.

Pemimpin “Komisi Tinggi Revolusi” Mohammad Ali al-Houthi dalam statemennya yang disebar melalui Twitter meminta Kerajaaan Arab Saudi “meneken gencatan senjata kongkret di al-Bait al-Haram yang mengikat semua pihak untuk menghentikan pertempuran di semua front, membuka blokade, dan memperkenankan jemaah Yaman menunaikan ibadah haji sampai berakhirnya bulan-bulan haram.”

Al-Houthi menyatakan bahwa ajakan ini semata-mata demi “memuliakan dan mengagungkan bulan-bulan haram”, dan bukan berarti bahwa kelompok ini tidak menyadari statusnya sebagai pihak yang bukan memulai perang.

“Rezim Saudi harus membuktikan bahwa rezim ini bukan agresor melainkan bertindak untuk memerangi teroris,” ungkap al-Houthi.

Bulan-bulan haram dalam kalender Hijriah yang digunakan oleh umat Islam ialah Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam tradisi Islam dan bahkan tradisi jaman Jahilirah, peperangan di bulan-bulan itu hendaknya dihentikan demi keamanan para penunai ibadah haji serta para saudagar yang bermaksud mendatangi tempat-tempat ibadah dan perniagaan.

Belum ada keterangan resmi dari kelompok al-Houthi maupun lawannya, kelompok presiden tersingkir Abd Rabbuh Mansour Hadi, yang didukung oleh Saudi dan sekutunya terkait dengan seruan melalui Twitter tersebut.

Sementara itu, kantor berita Arab Saudi, SPA, melaporkan bahwa tiga tentara Saudi, satu di antaranya perwira, tewas dalam pertempuran dengan pasukan Ansarullah yang didukung oleh pasukan mantan presiden Ali Abdullah Saleh di wilayah perbatasan Saudi-Yaman.

Menurut catatan kantor berita Turki, Anadolu, dengan tewasnya tiga tentara itu maka jumlah tentara Saudi yang tewas sejak 10 Mei lalu dalam perang Yaman bertambah menjadi 46 orang.

Saudi dan sekutunya melancarkan serangan ke Yaman sejak 26 Maret 2016 dengan dalih untuk membela pemerintahan Mansour Hadi. Pemerintahan ini tersingkir dari Sanaa oleh revolusi rakyat yang digerakkan oleh Ansarullah yang berhasil menguasai ibu kota Yaman ini sejak 21 September 2014. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL