jet tempur koalisi saudiMuskat, LiputanIslam.com – Koran terbesar dan tertua di Oman, al-Watan, dalam editorialnya untuk edisi Senin (30/3/2015) menyebutkan bahwa misi dan fungsi pasukan gabungan Arab akan ambigu selagi negara-negara yang mendirikannya tidak memiliki visi yang satu dan komprehensif mengenai terorisme.

“Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab di Sharm el-Sheikh, Mesir, telah berakhir tanpa menghasilkan pengaruh apapun bagi bangsa-bangsa regional, dan tidak pula memberikan sinyaliman mengenai kesungguhan, kekuatan dan potensi mereka, sedangkan kesepakatan pendirian pasukan bersama Arab menimbulkan tanda tanya mengenai esensi pasukan ini di mata bangsa-bangsa regional dan lain-lain,” tulis al-Watan.

Koran ini menyoal apakah pembentukan pasukan ini didukung dengan definisi yang satu terkait terorisme, dan demi siapa dan terhadap siapakah pasukan ini dibentuk? Ide ini bisa jadi bagus, namun esensi dan misinya tidaklah jelas ketika di kawasan sekarang sedang terjadi konflik dan persaingan antarkubu.

Pernyataan yang mengemuka sekarang ialah apakah pasukan ini dibentuk sekedar sebagai reaksi dadakan dan temporal terhadap situasi Yaman demi mendukung negara-negara Arab dan mencegah intervensi aisng? Bagaimana sikap pasukan ini terhadap Israel? Semua ini memerlukan jawaban yang memuaskan.

Al-Watan melanjutkan bahwa kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah sekarang yaitu ISIS, Jaish al-Islam, al-Nusra dan berbagai kelompok teroris besar dan kecil lainnya masing-masing memiliki pendiri dan penyokong, dan naifnya, negara-negara Arab menyokong dan memelihara pertumbuhan mereka semua.

Apakah kelompok-kelompok teroris yang berperang melawan pemerintah dan rakyat Suriah di mata negara-negara Arab itu masuk dalam kategori teroris? Apakah pasukan kolektif Arab bermaksud memerangi mereka? Bagaimana mungkin negara-negara ini akan bersedia membasmi kelompok-kelompok yang mereka sendiri menyokongnya?

Menurut al-Watan, dalam draf pembentukan pasukan kolektif Arab tidak ada defenisi yang komprehensif dan satu mengenai terorisme untuk dijadikan acuan mengenai fungsi utama pasukan ini, sehingga efektivitasnya layak dipertanyakan.

Koran ini menyayangkan fakta bahwa sebagian negara Arab menyokong kelompok teroris al-Nusra di Lebanon serta memandang kelompok-kelompok teroris di Suriah sebagai kaum revolusioner.

Di bagian akhir al-Watan menyebutkan bahwa ide pembentukan gabungan negara-negara Arab bisa saja diterima dengan berbagai pertimbangan yang seadanya, namun sebelum masuk ke tahap ekskusi, semua pertanyaan itu harus dijawab agar semua dimensi dan fungsinya dapat diketahui. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*