bom sanaa yamanSanaa, LiputanIslam.com – Sebuah kelompok yang menamakan dirinya Ansar al-Shari’ah yang berafiliasi dengan jaringan teroris al-Qaeda di Yaman dalam akun Twitternya menyatakan bertanggungjawab atas ledakan bom bunuh diri di Sanaa, ibu kota Yaman, yang menewaskan lebih dari 50 orang dan menciderai sekitar 70 lainnya, Kamis (9/10).

Berdasarkan keterangan beberapa sumber di Yaman, IRNA saat melaporkan berita itu menyebutkan bahwa bom bunuh diri yang meledak di tengah kerumunan massa pendukung kelompok al-Houthi di al-Tahrir Square itu dilakukan oleh seorang pria bernama Assad Hazbar yang diduga berasal dari provinsi Taiz. Sumber-sumber itu mengatakan bahwa Hazbar mengenakan sabuk peledak saat dia menyerang para demonstran anti pemerintah.

Gerakan Ansarullah atau kelompok al-Houthi sebelumnya menyatakan bahwa keputusan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi menunjuk Ahmad Awad Bin Mubarak sebagai perdana menteri baru sepenuhnya merupakan hasil dikte pihak asing.

“Mansur Hadi mengambil keputusan itu setelah mengadakan pertemuan dengan Duta Besar Amerika Serikat di Sanaa,” ungkap Daifullah al-Shami, anggota Dewan Politik Ansarullah.

Hal senada juga dinyatakan oleh Ali al-Qahum, anggota Biro Polirik Ansrarullah. “Tindakan (Mansur Hadi) itu berseberangan dengan revolusi rakyat negara ini,” tegasnya.

Menurutnya, ada upaya pihak asing untuk memaksakan kehendak mereka dalam penunjukan perdana menteri baru oleh presiden Yaman. Dia mengingatkan bahwa intervensi asing memungkinan kembalinya Yaman kepada kondisi seperti sebelum terjalinnya perjanjian damai.

Sebelum perjanjian itu terjalin, Yaman diriuhkan oleh demonstrasi besar-besaran yang melibatkan puluhan dan bahkan ratusan simpatisan gerakan Ansarullah. Demonstrasi itu kemudian disusul konfrontasi berdarah antara milisi Ansarullah dan pasukan pemerintah menyusul tindakan aparat keamanan merepresi demonstran hingga jatuh beberapa korban tewas dan luka. Konfrontasi berakhir dengan perjanjian damai setelah milisi Ansarullah menguasai beberapa gedung dan instansi strategis pemerintah serta mundurnya perdana menteri Mohammed Basindawa.

Menyusul pengumuman penunjukan Ahmad Awad Bin Mubarak sebagai perdana menteri baru, gerakan Ansarullah Selasa lalu menyatakan penentangannya terhadap pembentukan kabinet baru.

Dalam statemennya gerakan ini menyatakan, “Penunjukan Bin Mubarak merupakan pelanggaran terhadap perjanjian damai dan partisipasi yang telah ditandatangani oleh semua kubu politik.”

Ansarullah juga memastikan bahwa keputusan Mansur Hadi itu diambil berdasarkan pertimbangan pihak asing. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL