Sanaa, LiputanIslam.com –  Pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) Sayyid Abdul Malik al-Houthi menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah pihak yang sangat berkepentingan dalam invasi militer Arab Saudi dan sekutunya terhadap Yaman sehingga eskalasi militer yang terjadi sekarang tak lain karena ada lampu hijau dari AS, meskipun Washington secara resmi menyerukan penghentian perang.

“AS memberikan dukungan politik dan senjata untuk agresi terhadap Yaman. Di saat terjadi eskalasi AS berbicara tentang perdamaian. Nyanyian AS tentang perdamaian ketika eskalasi dimulai justru merupakan sandi perang dan pertempuran… AS melihat interes besar dalam agresi ini,” ungkap al-Houthi dalam pidato televisinya, Rabu (8/11/2018).

Dia menjelaskan bahwa eskalasi ini terjadi bersamaan dengan adanya perkembangan baru dalam upaya sebagian negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) untuk mempererat hubungan dengan Rezim Zionis Israel.

“Siapa yang dipandang Israel sebagai musuhnya akan dipandang pula oleh rezim Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai musuh keduanya,” lanjut al-Houthi.

Menurutnya, terdapat sentimen tersendiri terhadap bangsa-bangsa merdeka, termasuk Yaman, setelah terjadi proses normalisasi hubungan Saudi dan sekutunya dengan Israel, sehingga blokade terhadap Yaman kian diperketat demi mewujudkan target mereka di medan tempur, “namun gagal.”

Dia menambahkan bahwa dalam eskalasi militer sekarang pihak agresor menggelar operasi militer besar-besaran dan mengerahkan peralatan tempur dalam jumlah besar, namun sebagian besar wilayah provinsi Hudaydah masih dikuasai oleh pihak Ansarullah.

“Sebanyak apapun jumlah tentara dan perlengkapan perang musuh mereka tetap akan gagal mewujudkan tujuannya,” tegas al-Houthi.

Dia menegaskan bahwa bangsa Yaman merupakan korban kezaliman, agresi, kejahatan perang, dan genosida, namun pantang tunduk menjadi antek bagi Saudi dan UEA. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*