demo-rakyat-bersenjata-di-sanaa

Unjuk rasa rakyat bersenjata Yaman bersandi “Gunung Api Amarah” di depan kantor perwakilan PBB di Sanaa, ibu kota Yaman. (Reuters)

Sanaa, LiputanIslam.com –   Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman Sayyid Abdel Malik al-Houthi, Minggu (9/10/2016), menyatakan bahwa kekejaman Arab Saudi dan sekutunya yang didukung oleh Amerika Serikat (AS) sudah sedemikian jauh melampaui batas sehingga bahkan menyulitkan posisi AS.

“Sejak pertama kali menyerang Yaman, Riyadh telah melakukan berbagai aksi kejahatan yang terkeji dengan dukungan AS. Pembantaian dilakukan Saudi dengan lampu hijau dari AS. Kebengisan dan kebangkrutan rezim Saudi telah membuatnya tak segan-segan melakukan pembantaian massal,” tegasnya dalam sebuah pernyataan menyusul peristiwa serangan pasukan koalisi pimpinan Saudi terhadap para pelayat di Sanaa, ibu kota Yaman, yang terjadi Sabtu (8/10/2016) hingga menggugurkan 140 orang dan melukai 525 lainnya.

Al-Houthi memastikan bahwa AS andil besar dan merupakan otak di balik kejahatan “Si Tanduk Setan” Arab Saudi, dan seandainya AS tak berperan tidak mungkin Saudi berani melakukan kejahatan sedemikian fatal terhadap bangsa Yaman, tapi AS kini berlagak netral untuk cuci tangan dari kejahatan Saudi. (Baca: Korban Meninggal Serangan Saudi cs di Sanaa Jadi 140 Orang, PBB dan AS Angkat Bicara )

Sayyid al-Houthi juga menyebutkan bahwa kejahatan Saudi tak mengenal siapapun karena para korban pembantaian massal Saudi itu bukan dari kalangan Ansarullah, kelompok yang  paling dimusuhi oleh Saudi dan sekutunya.

“Seandainya para antek Saudi masih memiliki sekelumit jiwa nasional, kemanusiaan, dan kehormatan, niscaya mereka mengambil sikap terhormat,” katanya,

Dia kemudian menyerukan mobilisais umum untuk melawan dan membalas brutalitas Arab Saudi dan sekutunya.

“Kita sekarang harus bergerak lebih optimal… Tanggungjawab kini semakin basar sehingga siapapun tidak boleh berperan sebagai figuran. Orang yang pulang dari medan pertempuran karena satu dan lain hal atau karena faktor kondisi tertentu harus kembali ke sana. Orang yang mampu berperang tidak boleh tinggal di dalam rumah,” serunya kepada rakyat Yaman.

Senada dengan ini, Kepala Dewan Tinggi Revolusi Yaman dalam orasinya pada unjuk rasa ribuan massa dengan sandi “Gunung Api Amarah” di depan kantor perwakilan PBB di Sanaa, ibu kota Yaman, Minggu (9/10/2016), menyerukan pengadaan lagi barak-barak pelatihan militer.

“Musuh bertolak dari budaya ISIS dalam melakukan pembantaian, dan merekalah yang mengatur ISIS agar membunuh masyarakat di majelis-majelis dukacata, pengantin, dan lain-lain. Musuh lari dari medan pertempuran untuk kemudian menyerang para pelayat, warga sipil, dan pengantin. Tapi musuh harus tahu bahwa bangsa Yaman akan menjadi jauh lebih kuat lagi di medan laga, ” tegasnya.

Pasukan Koalisi Membantah

Pasukan koalisi pimpinan Saudi dalam statamennya Sabtu lalu menepis anggapan bahwa pihaknya telah melakukan serangan tersebut. Mereka menyatakan akan segera dilakukan penyelidikan atas peristiwa ini dengan “menggunakan para ahli AS.”

Pasukan agresor ini juga menyatakan ikut berbela sungkawa kepada keluarga korban.

“Pada pasukan kami terhadap doktrin yang jelas dan tegas untuk tidak menyasar posisi-posisi sipil, dan sedapat mungkin berusaha menjauhkan warga sipil dari bahaya,” bunyi statemen mereka.

Namun demikian, Mujahid, seorang saksi mata mengatakan, “Sebuah jet tempur telah melesatkan rudalnya terhadap para pelayat, dan beberapa menit kemudian datang jet tempur kedua membom lokasi yang sama.” (mm/ almasirah/alalam/raialyoum/afp/reuters)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL