Damaskus, LiputanIslam.com –  Setelah Kemlu Rusia, kini giliran Presiden Suriah Bashar al-Assad berbicara mengenai beredarnya kabar bahwa gembong teroris ISIS Abu Bakar al-Baghdadi tertangkap oleh tentara Rusia dan Suriah, sekaligus mengenai tragedi bom kimia Khan Shaykhun.

Dalam wawancara dengan Sputnik dan Ria Novosti milik Rusia, Kamis (20/4/2017), mengatakan bahwa kabar itu tidak benar.

“Laporan mengenai penangkapan Abu Bakar al-Baghdadi oleh tentara Rusia dan Suriah tidak benar…  Perbatasan antara Suriah dan Irak masih dikuasi oleh kelompok teroris ISIS. Suriah, Rusia, Barat, Amerika Serikat, ataupun pihak lain tidak menjangkau kawasan ini,” katanya.

Al-Assad juga berbicara mengenai penggunaan senjata kimia dalam tragedi Khan Shaykhun, provinsi Idlib, Suriah, yang menewaskan sekira 100 orang dan melukai 500 lainnya beberapa waktu lalu.

“Sejak tentara kami di Aleppo mendapat serangan kimia dan zat beracun kami sudah mengajukan permohonan kepada PBB agar mengirim tim pencari fakta untuk menyelidiki dan membuat kepastian soal ini. Setelah itupun juga ada kejadian-kejadian serupa, tapi PBB tetap tidak mengirim tim,” tuturnya.

Dia melanjutkan, “Sekarangpun kami juga telah melayangkan surat dan mengajukan permohonan kepada PBB supaya mengirim tim untuk menyelidiki peristiwa Khan Shaykhun, tapi mereka (PBB) sampai sekarang tidak melakukannya.”

Menurutnya, AS dan Barat sengaja mencegah pengirim tim penyelidik karena jika datang ke Suriah maka tim ini akan mengetahui kebohongan klaim AS mengenai tragedi Khan Shaykhun dan fakta mengenai lanud militer Shayrat yang diserang oleh AS.

“Karena itu tim penyelidik tidak dikirim. Apa yang terjadi sekarang ialah upaya Rusia dan negara-negara lain untuk pengiriman tim, dan sampai sekarang kami belum mendengar kabar positif adanya tim yang datang,” imbuhnya.

Al-Assad menjelaskan bahwa peristiwa Khan Shaykhun terjadi pada pukul 6.30 sedangkan angkatan udara Suriah menyerang daerah yang dikuasi Jabhat al-Nusra itu pada pukul 11.30. Dia menduga peristiwa itu sengaja dibuat supaya AS dapat menyerang Suriah.

“Jika 60 orang tewas akibat serangan kimia, lantas mengapa kehidupan di daerah ini masih berjalan normal? Mengapa mereka tidak meninggalkannya? Bagaimana mungkin ada penggunaan senjata pemusnah massal di sana tapi tak seorang meninggalkan daerah ini?” soalnya.

Dia juga menjelaskan bahwa serangan AS ke Shayrat beberapa hari setelah peristiwa Khan Shaykhun justru membuktikan klaim AS karena AS menyerang semua gudang yang ada di Shayrat tapi di sana ternyata tak ada sama sekali gas beracun tersebar dan memapar tentara Suriah. (mm/irna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL