Damaskus, LiputanIslam.com –  Presiden Suriah Bashar al-Assad menilai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sama saja dengan pendahulunya, Barack Obama, dan menyebut Israel memiliki tujuan yang sama dengan Arab Saudi dan Qatar terkait dengan krisis Suriah.  Dia juga menyatakan ada negara Arab Teluk Persia yang mendukung Suriah tapi bungkam tak berani mengungkapkannya.

Seperti dikutip SANA, Kamis (6/4/2017), dalam wawancara dengan sebuah surat kabar Kroasia al-Assad mengatakan, “Selagi mereka mengirim pasukan ke Suriah tanpa koordinasi dan permohonan kepada pemerintah Suriah yang sah maka pemerintah (AS) ini sama saja dengan pemerintahan sebelumnya yang tidak menghendaki pulihnya stabilitas di Suriah.”

Dia menyebut pasukan AS yang datang dan bersekutu dengan pasukan yang didominasi oleh milisi Kurdi, Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) , sebagai pasukan pendudukan.

“Campurtangan setiap tentara, sekalipun satu orang, tanpa izin pemerintah Suriah merupakan perang dalam arti yang sesungguhnya, dan segala campurtangan di udara dan lain-lain juga merupakan intervensi ilegal dan agresi terhadap Suriah,” tuturnya.

Mengenai kekuatiran pecahnya perang Suriah dengan Israel, al-Assad mengatakan, “Kekuatiran pecahnya perang ini sangat tidak realistis, karena faktanya di sini kami justru sedang berperang; para teroris berperang demi kepentingan Israel, Israel bersekutu dengan Turki dalam tujuan, dan bersekutu pula dengan AS, Perancis, Inggris, Saudi, Qatar, dan lain-lain.”

Presiden Suriah menegaskan bahwa tak ada pilihan kecuali kemenangan Pasukan Arab Suriah (SAA) atas teroris, karena “jika tidak demikian maka berarti Suriah akan terhapus dari peta.”

Dia juga menegaskan tak semua kelompok bersenjata di Suriah adalah teroris, dan “tak ada oposisi moderat.”

“Yang ada adalah pemberontak jihadis di mana makna jihad telah diselewengkan. Karena itu dewasa ini perundingan dengan kubu pemberontak ini tidak dapat membuahkan hasil kongkret. Buktinya, di tengah perundingan di Astana (ibu kota Kazakhstan), mereka melancarkan serangan ke kota Damaskus, Hama dan kawasan Suriah lainnya. Mereka memutar lagi roda terorisme dan pembantaian orang-orang yang tak berdosa. Para teroris ini tidak bisa menjadi oposisi dan tidak bisa pula membantu pencapaian solusi,” tegasnya.

Mengenai sebab mengapa pemerintah Damaskus berunding dengan mereka, al-Assad menjelaskan, “Berunding dengan mereka dilakukan karena banyak orang semula tidak percaya bahwa kelompok-kelompok ini tidak menghendaki peletakan senjata dan keberanjakan menuju proses politik. Pada gilirannya kamipun pergi untuk membuktikan kepada semua orang yang meragukan kenyataan betapa kelompok-kelompok ini tidak bisa menjalani proses politik, karena mereka memang nyata-nyata kelompok teroris.”

Ditanya tentang negara-negara Arab Teluk Persia dia mengatakan, “Sebagian besar negara-negara Teluk adalah negara-negara yang mengekor (kepada Barat) sehingga tak berani berkata ‘tidak’. Sebagian di antara mereka mengatakan, ‘ Kami bersama kalian (Suriah) tapi kami tak dapat mengungkapkannya, kami mengharapkan kemenangan kalian dalam perang, terjaganya Suriah yang utuh, dan kekalahan teroris’. Tapi secara terbuka mereka berkata lain lagi karena mereka tunduk kepada kehendak Barat.” (mm/sana)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL