al-qaedaKairo, LiputanIslam.com – Otoritas Mesir menyatakan pihaknya berhasil menangkap tokoh penting jaringan teroris al-Qaida yang menjadi ajudan Ayman al-Zawahiri, pemimpin al-Qaida, di kota Nile Delta Senin (7/4).  Tokoh bernama Tharwat Salah Shehata itu diinterogasi di sebuah lokasi tersembunyi usai dibekuk di sebuah apartemen di distrik Ramadan kota Sharqiya.

Otoritas Mesir menegaskan bahwa dia dikenai dakwaan telah mendirikan kelompok-kelompok militan di wilayah barat Mesir, terlibat dalam kerusuhan yang menewaskan warga Kristen Koptik di wilayah timur kota Benghazi, Libya, dan terlibat pula dalam pelatihan militan di wilayah timur Libya yang menjadi sarang ekstrimis yang mengatasnamakan Islam.

Anshar al-Shari’ah, satu di antara sekian kelompok radikal tersebut, dinyatakan bertanggungjawab atas pembunuhan Duta Besar Amerika Serikat (AS) dan tiga orang AS lainnya di Benghazi pada tahun 2012.

Menurut para pakar keamanan Libya, Shehata berada di kota Darna dan Benghazi ketika terjadi gelombang aksi pembunuhan terhadap petugas keamanan, aktivis dan tokoh agama.

Shehata semula adalah anggota Jihad Islam Mesir, kelompok yang telah menghabisi Presiden Mesir Anwar Sadar pada tahun 1981. Dalam statusnya sebagai buron, dia dijatuhi vonis hukuman mati atas upaya pembunuhan terhadap mantan perdana menteri Mesir pada tahun 1990-an.

Setelah upaya pembunuhan gagal itu, laman The Long War Journal menyatakan bahwa Shahata sedang menggalakkan “jihad di seluruh dunia”, dan dalam rangka ini dia bepergian ke Sudan, Afghanistan, Pakistan, Yaman dan Irak. Pada tahun 2001, Jihad Islam Mesir akhirnya bergabung dengan al-Qaida.

Sejak itu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat Shehata sebagai anggota al-Qaeda dan berkomplot dengan Osama bin Laden. PBB juga menyatakan dia sebagai satu diantara sembilan anggota dewan penasehat Jihad Islam Mesir pimpinan al-Zawahiri, yang bertanggungjawab atas kinerja organisasi al-Qaida.

Penangkapan Shehata terjadi setelah saudara al-Zawahiri, Mohammed, dipenjara sejak penggulingan Presiden Mesir Mohammad Morsi pada Juli 2013. Saat Morsi masih menjabat presiden, Mohammed menjadi mediator pembicaraan antara kelompok-kelompok ekstrim dan pihak kepresidenan demi menghentikan serangan terhadap tentara dan polisi Mesir di wilayah rawan Semenanjung Sinai.

Minggu lalu Mohammed dibawa ke pengadilan bersama 67 orang lain atas dakwaan membentuk dan memimpin kelompok teroris yang berafiliasi dengan al-Qaida serta merencanakan operasi teror. (mm/alalam/abcnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL