Baghdad, LiputanIslam.com –  Perdana Menteri Irak mengaku tidak akan memperkenankan negaranya digunakan oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ataupun pihak lain untuk menyerang Iran.

“Irak tidak menyetujui keberadaan pasukan militer (asing) di Irak, walaupun para teroris masih bercokol. Di Irak tidak ada pangkalan militer (asing),” katanya dalam jumpa pers mingguan, Selasa (20/2/2018).

Dia menambahkan, “Kami tidak akan membiarkan wilayah Irak digunakan oleh NATO maupun pihak lain untuk menyerang Iran… Ada konflik regional, dan masing-masing negara ingin mewujudkan interesnya atas pihak lain.”

Irak hingga kini masih berjuang menumpas sisa-sisa anggota ISIS, yaitu kelompok teroris takfiri berfaham Salafi/Wahabi yang pernah menyerbu Negeri 1001 Malam ini dari wilayah Suriah pada tahun 2014.

Tentara dan milisi Irak berperang melawan mereka selama lebih dari tiga tahun hingga kemudian Perdana Menteri Irak Haider Abadi mengumumkan kemenangan atas mereka pada Desember 2017.

Ribuan pasukan Amerika Serikat (AS) yang bercokol di Irak dengan dalih turut memerangi ISIS hingga masih bertahan di Irak.

Kedubes AS kemarin menyatakan bahwa perang masih belum selesai di Irak karena, menurutnya, ISIS masih memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan.

Statemen Kedubes AS ini keluar setelah terjadi kasus serangan ISIS yang menewaskan 27 anggota relawan Al-Hashd Al-Shaadi di kawasan Sadouniyah di barat daya Kirkuk.

Menanggapi kasus serangan tersebut, Perdana Menteri Irak Senin lalu mengaku telah mengeluarkan instruksi pengejaran para pelaku serangan. Dia juga memastikan bahwa pemerintahannya bertekad untuk terus bergerak menghabisi “sel-sel tidur dan kantung-kantung teroris”. (mm/alalam/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*