Smoke rises from a bus station hit by what activists said was an airstrike by forces loyal to Syria's President Bashar al-Assad, as garbage fills the street in Jisr al-Hajj in AleppoDamaskus, LiputanIslam.com Gelombang serangan membabi buta gerilyawan Suriah masih terus merenggut nyawa banyak warga sipil. Dalam perkembangan terbaru, sedikit 13 warga tewas akibat serangan yang sporadis militan di beberapa daerah permukiman di negara ini sepanjang Sabtu (19/4/2014).

Di kota al-Salamiyah, sebelah barat provinsi Hama, sebuah bom mobil meledak dan menghantam iring-iringan truk Lembaga Bulan Sabit Merah, mengakibatkan empat warga tewas dan sekitar sembilannya lainnya cidera.

Di kota Homs, sedikitnya enam nyawa penduduk melayang terkena serangan roket dan peluru mortir gerilyawan terhadap sebuah area padat penduduk. Gerilyawan juga menyerang dua rumah sakit Homs.

Di wilayah utara Suriah,  serangan mortir gerilyawan juga menjatuhkan tiga warga sipil tewas, satu di antaranya balita berusia tiga tahun.

Di timur laut kota Dara, 14 anak kecil cidera terkena ledakan mortir yang ditembakkan ke kawasan permukiman Shamal al-Khat.
Serangan mortir militan juga terjadi di Damaskus, ibu kota Suriah, mengakibatkan lima penduduk cidera di area permukiman al-Dweil’a dan Bab Sharqi.

Milisi pemberontak dan ekstrimis melancarkan serangan membabi ke berbagai area padat penduduk setelah mereka kehilangan posisi-posisi strategisnya di kawasan Qalamoun yang berbatasan dengan Lebanon.

Selasa lalu tentara Suriah berhasil mengusir gerilyawan bersenjata dari kota-kota Assal al-Ward, Housh Arab dan Jab’adin, sehari setelah pasukan pemerintah merebut dan menguasai penuh dua kota Ma’loula dan al-Sarkha.

Senin lalu, tentara Suriah juga kembali merebut kawasan dataran tinggi yang menghadap dataran  Rankous sehingga praktis memutus rute suplai gerilyawan antara area tersebut dan wilayah perbatasan Lebanon.

Suriah bergolak akibat pemberontakan dan ekstrimisme yang terjadi sejak Maret 2011. Sejumlah negara Barat dan beberapa negara sekutu mereka di kawasan Timur Tengah, khususnya Qatar, Arab Saudi dan Turki, disebut-sebut sebagai negara-negara yang getol menyokong dan membantu milisi anti pemerintah Suriah.

Sabtu (19/4/2014) Wakil Menteri Luar Negeri Suriah, Faisal al-Miqdad, menyatakan bahwa apa yang terjadi di Suriah dalam tiga setengah tahun terakhir ini ialah perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya, termasuk rezim-rezim anti demokrasi di Timur Tengah, terhadap Suriah. Menurut al-Miqdad, para sekutu AS itu antara ialah Arab Saudi, Turki dan Israel yang gigih menyuplai senjata kepada teroris al-Qaida dan Front al-Nusra.

“Sudah saatnya sekarang khalayak internasional membenahi evaluasinya terhadap apa yang mereka saksikan di Suriah, dan sudah seharusnya mereka percaya kepada pemerintah Suriah, bukan kepada para teroris,” ujar al-Miqdad.

Berbagai laporan menyebutkan lebih dari 150,000 orang tewas, sedangkan jutaan lainnya mengungsi akibat perang Suriah. (mm/presstv/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL