Fresh clashes leave 60 militants killed in AleppoAleppo, LiputanIslam.com – Sebanyak 120 militan tewas dalam operasi militer terbaru tentara Suriah di distrik al-Zahra di wilayah barat kota Aleppo, Sabtu (12/4/2014). Para militan yang tewas itu diketahui berasal dari Turki, Cechnya dan Afghanistan.

Dalam operasi itu tentara Suriah berhasil merebut dan mengendalikan semua kawasan distrik al-Zahra serta menghancurkan mobil-mobil pengangkut senjata gerilyawan yang diparkir di Ma’arat Artiq, bagian utara Aleppo.

Tentara Suriah juga berhasil menggagalkan upaya militan bersenjata menyusup ke wilayah pinggiran Aleppo utara serta membunuh puluhan militan. Di distrik al-Atareb, bagian barat Aleppo, tentara Suriah menghancurkan gudang senjata milik Front al-Nusra.

Di distrik Rankus dekat Damaskus, tentara Suriah juga berhasil menghabisi beberapa militan anggota kelompok Jaish al-Islam.
Tentara Suriah juga masih melanjutkan operasi pemburuan kelompok-kelompok bersenjata di bagian selatan kota Daria dan al-Meliha.

Di bagian lain, militan Suriah melancarkan serangan teror bom dan tembakan mortir di kota Damaskus Sabtu (12/4/2014), mengakibat empat warga tewas dan 17 lainnya luka-luka. Serangan bom menerjang Jl. Al-Tahwra, sedangkan serangan mortir menerjang kawasan al-Tijara dan al-Amara.

Oposisi Inginkan Koalisi Dengan Israel

Pemimpin Koalisi Nasional Suriah (SNC), Kamal al-Labwani, menyatakan pihaknya menginginkan koalisi dengan Israel untuk mengganyang pemerintah Damaskus. Dia menegaskan bahwa koalisi ini merupakan satu-satunya jalan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Pemimpin oposisi yang dinyatakan moderat dan didukung oleh Barat ini juga mengingatkan bahwa penggulingan Presiden al-Assad merupakan bagian dari interes utama Israel. Selain itu, lanjutnya, penguatan terhadap SNC juga dapat meredakan kekuatan kelompok-kelompok militan yang berafiliasi dengan al-Qaeda.

Kamal al-Labwani pernah menjalani hukuman penjara selama 10 tahun, dan dibebaskan setelah mendapat grasi dari Presiden al-Assad dua tahun silam.

Labwani menawarkan penyerahan Dataran Tinggi Golan kepada Israel dengan imbalan menerima bantuan militer dari Tel Aviv dan menggunakan bantuan Israel untuk menerapkan zona larangan terbang di Suriah selatan. “Mengapa kita tidak siap menjual Dataran Tinggi Golan, sedangkan ini lebih baik daripada kehilangan Suriah dan Golan sekaligus,” ujar Labwani kepada Harian al-Arab Maret lalu.

Januari lalu, wakil pemerintah Suriah dan kelompok oposisi dukungan Barat tersebut mengadakan perundingan langsung untuk pertama kalinya sejak krisis Suriah pecah lebih dari tiga tahun silam. Perundingan berlanjut hingga beberapa putaran pada pertengahan Februari, namun kedua pihak akhirnya gagal meraih titik temu akibat tajamnya perselisihan. SNC bersikukuh pada pembentukan pemerintahan transisi dan pengunduran Presiden al-Assad.

Perang Suriah yang berkobar sejak 2011 dilaporkan telah menewaskan lebih dari 150,000 orang serta memaksa jutaan orang mengungsi. Berbagai laporan juga menyebutkan bahwa sejumlah negara Barat dan negara-negara sekutunya di kawasan Timur Tengah, terutama Qatar, Arab Saudi dan Turki, gencar menyokong kubu oposisi Suriah. (mm/alalam/sana)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*