Gaza,LiputanIslam.com—Beberapa waktu lalu, militer Israel telah menahan dua kapal kemanusiaan yang berlayar ke Gaza dan menembus blockade laut yang diberlakukan Israel di wilayah perairan Gaza. Dua kapal kemanusiaan yang ditahan itu adalah Al-Awda dan Freedom.

Kapal Al-Awda adalah kapal nelayan Norwegia yang digunakan untuk mengangkut bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan untuk rakyat Palestina di Gaza. Kapal ini juga membawa serta 22 orang aktivis dari berbagai negara di dunia. Namun, pada 29 Juli lalu, kapal ini telah ditahan oleh Israel dan sang kapten mendapatkan beberapa pukulan dari militer. Para aktivis di kapal itu kemudian ditahan dan dipulangkan ke negara masing-masing.

Sementara itu, kapal Freedom adalah kapal asal Swedia yang ukurannya lebih kecil dari kapal al-Awda. Misi kapal ini sama-sama mengangkut bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza yang tengah menderita. Sayangnya, militer Israel kembali menahan kapal Freedom dan memenjarakan 12 orang aktivis internasional yang berada di atasnya.

Salah seorang aktivis kapal Freedom yang ditahan oleh militer Israel adalah Divina Levrini. Divina ikut menaiki kapal Freedom dari Kiel-Jerman ke Palermo-Italia, dan sebelum sampai di Gaza, Divina pindah ke kapal al-Awda. Setelah terbebas, Divina menceritakan segala perlakuan tak manusiawi yang diterimanya dari militer Israel, terlebih saat dirinya berada di dalam penjara Israel.

“Kami bisa melihat kemilau lampu di Israel dan gelap gulita di seluruh Gaza,” ucapnya, sambil membayangkan saat pertama dia hampir sampai ke Gaza. “Kami tau, Israel telah memutus jalur listrik ke sana,” tambahnya. Saat ditangkap militer Israel di atas kapal al-Awda, dia sempat menjelaskan, “Di sana ada anak-anak yang menunggu kedatangan kami, menunggu sebuah kapal yang membawa obat-obatan dan nyatanya tidak akan pernah datang.”

Saat itu, Divina sempat melihat sebuah kapal nelayan Palestina yang dicuri dari pelabuhan. “Hatiku benar-benar penuh dengan kesedihan, menyaksikan bagaimana mungkin manusia bisa jadi sejahat ini,” jelasnya.

Saat berada di penjara, Divina menyebut bahwa militer Israel tidak membiarkan dirinya dan para aktivis lainnya tidur. Setiap jam, seorang penjaga datang dan memaksa mereka berdiri dan memberikan tekanan psikologis.

“Aku tidak diperbolehkan mengambil obat walaupun saat itu sedang sakit kepala saat kapal kami ditahan,” tuturnya.

Divina menuturkan bahwa negaranya mendukungnya. Menlu Swedia menyatakan dalam surat terbuka bahwa dirinya mendukung kapal Freedom Flotilla dan kapal ke Gaza. Namun menurutnya, dukungan diplomatis saja tidak cukup. Sudah saatnya bagi pemerintah Swedia untuk memboykot Israel sampai Palestina benar-benar bebas.(fd/Memo)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*