Washington,LiputanIslam.com-Hanya 11 hari setelah kematian seorang bocah perempuan Guatemala berusia 7 tahun di kamp tahanan penjaga perbatasan AS, kini media-media mengabarkan kematian seorang bocah Guatemala lain di tempat yang sama, bersamaan dengan perayaan Natal.

Dilansir oleh Associated Press pada Selasa malam (25/12), para pejabat imigran AS memberitakan kematian seorang bocah lelaki berusia 8 tahun di kamp tahanan pemerintah. Sejauh ini belum ada rincian lebih lanjut terkait peristiwa ini, termasuk nama bocah asal Guatemala tersebut.

Pasca kematian bocah perempuan Guatemala beberapa hari lalu, presiden AS menjadi sasaran kecaman banyak pihak. Donald Trump dalam akun Twitter-nya mengatakan, kebijakan Demokrat di masa Barrack Obama dalam memisahkan anak-anak imigran dari orangtua mereka jauh lebih buruk dari kebijakan yang dijalankannya sekarang.

“Ingatlah foto anak-anak dalam sangkar pada tahun 2014 di masa Obama. Meski demikian, jika kebijakan ini tidak dijalankan, akan ada lebih banyak orang yang datang (ke AS), dan para penyelundup akan menyalahgunakan anak-anak lebih banyak lagi,”cuit Trump.

Dengan kematian kedua ini, diharapkan kondisi para imigran yang dikurung di kamp-kamp tahanan kantor bea cukai dan perbatasan AS kembali mendapat perhatian dari masyarakat.

Penangkapan para imigran di AS pada tahun ini semakin meningkat dari hari ke hari. Pada bulan November saja, petugas patroli perbatasan AS menahan 25.172 orang di perbatasan barat daya negara ini. Angka ini sendiri merupakan sebuah rekor. Sebelum ini, pemerintah AS juga menangkap lebih dari 30 ribu pendukung imigran di perlintasan perbatasan. (af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*