Kutupalong,LiputanIslam.com— Putus Asa dan Prustasi tengah menghampiri para pengungsi Rohingya lantara mereka tak memiliki akses pendidikan atau pun pekerjaan di tengah terpaan hidup yang menuntut segala macam kebutuhan dan ketat persaingan.

Suhu yang panas menyertai semrawutnya pagi di Kutupalong, kamp pengungsi terbesar yang berlokasi di perbatasan Bangladesh-Myanmar. Pria, wanita, dan anak-anak Rohingya telah terusir dari kampung halaman mereka di Myanmar dan kini tengah membentuk antrian panjang di depan posko bantuan berbagai organisasi kemanusiaan untuk menerima sumbangan pakaian, makanan, serta obat-obatan.

Begitulah hari-hari yang kini dilalui oleh setiap pengungsi Rohingya di kamp pengungsian. Pemerintah Myanmar, hingga saat ini, masih belum sudi mengizinkan mereka kembali ke kampung halaman mereka. Sementara tuntutan hidup sehari-hari, seperti pendidikan, pangan, dan papan terus memburu.

Etnis Rohingya telah dibantai dan didiskriminasi oleh pemerintah Myanmar. Mereka menolak untuk mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya di Myanmar, meski masyarakat Rohingya telah turun temurun hidup di negara itu. Militer Myanmar tak ragu melepaskan peluru dan membantai etnis Rohingya, bahkan kalau perlu, sampai mereka semua musnah dari muka bumi.

Tak tahan dengan penyiksaan militer itu, Mayoritas Rohingya pun melarikan diri ke berbagai negara dan yang terdekat adalah ke Bangladesh. Jumlah Rohingya di Bangladesh, berdasarkan atas laporan al-Jazeera, telah mencapai satu juta jiwa. Di tempat pengungsian, hidup mereka serba terbatas dan kekurangan. Tidak ada pendidikan resmi untuk muda-mudi Rohingya. Mereka hanya mendapatkan pendidikan informal melalui pusat pendidikan temporal dan Maktab yang menawarkan pelajaran Bahasa Arab dan Pendidikan al-Qur’an. Maktab adalah tempat belajar yang terpisah dari pusat-pusat pelajaran sementara dan didanai oleh donatur-donatur Bangladesh atau beberapa negara seperti Arab Saudi dan Turki.

Muda-mudi Rohingya bukanlah remaja yang tak cinta pengetahuan. Tetapi, pendidikan informal inilah satu-satunya pilihan pendidikan yang mereka miliki saat ini. Di kamp pengungsi, mereka tidak diajarkan Bahasa Bengali, atau tepatnya tidak diperbolehkan. Karena pemerintah Bangladesh tidak berencana untuk membaurkan Rohingya dengan penduduk setempat.

Tak berhenti pada persoalan ini, krisis pekerjaan juga menjadi hantu yang menakutkan bagi etnis pengungsi Rohingya. Sanjib Sil, salah seorang pengungsi, menceritakan bahwa dirinya dulu memiliki lahan dan tempat bisnis di Myanmar. Kini, ia tak memiliki apa-apa lagi.

“Aku tidak memiliki uang lagi, bahkan lima Rupe sekalipun. Aku harus ikut mengantri dan mengharapkan belas kasihan. Aku juga tidak bisa keluar dari kamp. Masa depanku telah hancur dan aku dianggap sebagai makhluk yang tak produktif. Kini tak akan ada seorang gadis pun yang mau menikahiku,” ucapnya sedih.

Potret kehidupan yang tak manusiawi bagi etnis Rohingya rupanya tak juga menggerakkan hari pimpinan Myanmar yang kabarnya pernah mendapatkan nobel kemanusiaan itu. Kita tak pernah tau, sampai kapan etnis Rohingya akan terkatung-katung seperti ini. (fd/al-Jazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*