Koleksi buku-buku Ro Mayyu Ali yang telah dihancurkan saat rumahnya di Maungdaw dibakar.

Rakhine,LiputanIslam.com—Salah seorang warga Rohingya, Ro Mayyu Ali, menulis surat terbuka Untuk pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi. Surat ini merupakan aspirasi yang disampaikan oleh salah seorang warga Rohingya yang dizalimi oleh pemerintah Myanmar. Pada Sabtu (14/10), surat itu dipublikasikan oleh media al-Jazeera. Berikut isi suratnya yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia:

Aku terlahir di tahun yang sama, saat Anda (Aung San Suu Kyi) menerima penghargaan nobel perdamaian. Penghargaan ini merupakan kehormatan luar biasa yang dianugerahkan kepada salah seorang dari negara kami.

Semua orang di Maungdaw, daerah di Rakhine State tempat aku dilahirkan, merasa bahagia dan bersuka cita atas penghargaan itu seolah mereka yang menerimanya sendiri.

Untuk pertama kalinya, sejak kemerdekaan, kami—Rohingya—merasa telah menjadi bagian dari negara ini. Kami bangga menyebut diri kami sebagai orang Myanmar.

Meski telah menderita dan ditindas selama bertahun-tahun oleh kelompok militer, nobel perdamaian yang Anda terima tetap mengilhami kami.

Setiap saat, kakekku selalu berbicara tentang keluhuran Anda. Dia selalu menyembelih kambing dan sapi yang paling besar saat para anggota dari partai Anda, the National League for Democracy, akan berkunjung. Ia benar-benar memberikan sambutan yang luar biasa untuk mereka.

Ayah dan kakekku selalu mengingatkan aku agar mengikuti jalan yang telah Anda tempuh, dan ibuku selalu mengenang Anda sebagai sosok aktivis dan vocal.

Pada tahun 2010, ketika Anda akhirnya dibebaskan oleh militer dari tahanan rumah, kami pun turut bersuka cita. Tetapi tujuh tahun kemudian, kami orang-orang Rohingya malah tetap menjadi korban kebrutalan dan genosida, bukan dari tangan militer, tetapi dari tangan Anda.

Sejak Anda memenangkan pemilihan umum di tahun 2015, Anda mulai menyingkirkan delegasi orang-orang Muslim dari partai Anda. Ini adalah pertanda awal pengecutnya sikap politik Anda.

Beberapa bulan kemudian, pemerintahan Anda mengumumkan “operasi pembersihan” di negara bagian Rakhine utara. Pada bulan-bulan tersebut, banyak warga sipil terbunuh dan para wanita diperkosa.

Saat kecaman bermunculan dari masyarakat internasional, Anda memungkiri praktik-praktik kejahatan itu.

Bahkan Anda menolak untuk menyebut kami sebagai “Rohingya” sebuah sebutan untuk etnis kami, orang-orang yang telah hidup di Rakhine selama berabad-abad.

Sejak aksi kekerasan dimulai pada 25 Agustus lalu, lebih dari 500.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh.

Lebih dari 1.000 warga Rohingya telah terbunuh, 15.000 rumah terbakar habis, dan mereka yang masih terjebak hidup dalam ketakutan dan keputusasaan.

Pada 1 September, aku dan Ayahku dipaksa untuk meninggalkan rumah kami.

Selama tiga hari dua malam, kami berusaha mencapai Bangladesh setelah melewati sungai Naf menggunakan perahu kecil. Akhirnya, kami pun menemukan tempat berlindung di kamp pengungsi Kutupalong.

Setelah itu saya menerima informasi bahwa rumah saya telah dibakar habis. Banyak yang mengatakan bahwa pelakunya adalah para tantara dan warga. Tapi bagi saya, yang harus disalahkan adalah Anda—Aung San Suu Kyi.

Tak hanya rumah saya yang Anda bakar, tetapi juga buku-buku saya.

Saya selalu bermimpi untuk menjadi seorang penulis, belajar Bahasa Inggris di Universitas Sittwe. Tetapi Anda pun tahu bahwa orang-orang Rohingya dilarang untuk mendaftar apalagi belajar di sana. Karena itu, saya pun belajar melalui buku-buku dan artikel.

Anda membakar karya Nelson Mandela, Long Walk to Freedom, Autobiograpi Mahatma Gandi, dan karya Leymah Gbowee, Mighty Be Our Power. Bahkan, buku Anda sendiri yang berjudul Freedom From Fear pun anda bakar.

Anda adalah orang yang bertanggung jawab atas pembakaran mimpi dan harapan saya.

Sekarang, kami tinggal di Bangladesh sebagai pengungsi. Ayahku punya pertanyaan untuk Anda: “Mengapa Anda tidak pernah dating ke Rohingya setelah semua ini terjadi?”

Apakah Anda peduli dengan situasi kami?

Yang paling menyakitkan bagi kami bukan karena kami mengetahui bahwa Rohingya telah menjadi komunitas yang paling teraniaya di dunia, melainkan mengetahui bahwa kami adalah komunitas yang paling teraniaya di Myanmar yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.

Anda telah memilih jalan hidup Anda, yang sudah sangat jelas diketahui  oleh semua orang. Sekarang, nama Anda akan menjadi bulan-bulanan untuk setiap orang Rohingya yang mengungsi ke seluruh dunia, Bersama dengan nama-nama para tiran dan diktator yang datang sebelum Anda. (fd/al-Jazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL