Kapal patroli model Avante 2200 (foto:presstv)

Kapal patroli model Avante 2200 (foto:presstv)

Madrid,LiputanIslam.com-Badan Amnesti Internasional meminta kepada Felipe VI, raja Spanyol, agar tidak menjual kapal perang kepada Saudi. Lembaga ini memperingatkan, kapal-kapal ini akan digunakan Saudi untuk “melakukan pelanggaran serius undang-undang internasional HAM” terhadap rakyat Yaman.

Esteban Beltran, direktur Amnesti Internasional di Spanyol, pada Jumat (11/11), sehari setelah kunjungan Felipe VI ke Saudi, mengunggah video di akun Twitter-nya dan mengatakan,”Mereka (Saudi) membombardir rumah sakit, sekolah, pusat pengobatan, dan gedung-gedung infrastruktur lain yang disesaki warga.”

Beltran juga meminta Raja Spanyol untuk menggunakan pengaruhnya atas Salman bin Abdulaziz, Raja Saudi, guna menghentikan “serangan udara atas warga sipil Yaman.”

Dalam kunjungan 3 hari ini, Felipe VI diiringi oleh Alfonso Dastis (Menteri Luar Negeri) dan Inigo de la Serna (Menteri Urusan Publik).

Kunjungan ini dilakukan atas undangan resmi Raja Salman.

Koran El Pais dalam laporannya menyebutkan, salah satu motif kunjungan ini adalah penandatanganan kesepakatan antara Riyadh dan perusahaan pembuat kapal Spanyol, Navantia. Riyadh memesan lima kapal perang patroli jenis Avante 2200 senilai 2,2 milyar dolar Amerika dari perusahaan ini.

Kabar tentang transaksi ini sudah berkali-kali dipublikasikan media selama 10 bulan terakhir. Laporan-laporan menyebutkan, perundingan antara Riyadh dan Navantia ini telah memasuki tahap-tahap akhir.

Tak lama setelah tersiarnya kabar kemungkinan penandatanganan transaksi ini, sejumlah lembaga pembela HAM seperti Green Peace dan Oxfam mengirim surat terbuka kepada pemerintah Spanyol. Mereka menentang penjualan kapal-kapal perang ini kepada Saudi. Alasan yang mereka utarakan sama dengan yang disampaikan Badan Amnesti Internasional.

Sejak Maret 2015, Saudi dan koalisinya menggempur Yaman melalui serangan udara. Tanggal 30 Agustus lalu, PBB mengumumkan bahwa sejak serangan militer Saudi ke Yaman, lebih dari 10 ribu jiwa melayang. Kebanyakan dari korban tewas ini adalah rakyat sipil.(af/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL