Teheran,LiputanIslam.com-Presiden AS dalam pidato terbarunya di negara bagian Iowa (9/10) mengulangi sikap pemerintahannya terhadap Iran. Di hadapan para pendukungnya, Donald Trump mengatakan,”Lihatlah Iran. Sebelum saya jadi presiden, Iran bisa mengontrol Timur Tengah dalam waktu 12 menit.”

Dalam pidato yang sama, dan juga sebelumnya, Trump menghina negara-negara yang menyerahkan perlindungan atas keamanannya kepada pihak asing. Di hadapan pendukung Partai Republik di Mississippi, dia berujar bahwa dia mengatakan kepada Raja Saudi, andai bukan karena dukungan AS, Saudi tak bisa bertahan lebih dari dua pekan. Sebab itu, Saudi harus menanggung biaya perlindungan dari AS.

Menanggapi ucapan Trump, komandan IRGC menyebut bahwa dia salah besar. Mohammad Ali Jaafari berkata,”Jika sebelum ini Iran mampu melindungi Timur Tengah, bukan menguasainya, dalam 12 menit, kini waktunya sudah berkurang.”

Pernyataan Trump juga ditanggapi Sayyid Hasan Nasrullah. Menurut sekjen Hizbullah ini, ucapan Trump itu adalah bukti kebesaran Iran.

“Iran, yang diembargo  sejak 40 tahun lalu, dianggap besar oleh Trump. Sementara negara-negara yang bersahabat dengan AS justru dihinakan olehnya,”kata Sayyid Nasrullah.

Iran telah membuktikan sanggup mengendalikan kawasan dalam jangka waktu sesedikit mungkin. Keberadaan para konsultan Iran di Suriah dan Irak (atas permintaan kedua negara tersebut) yang telah menjadi kartu kemenangan di sana, adalah bukti klaim ini.

Pada tahun 2015, jubir kemenlu AS (di masa Obama) menyatakan, butuh waktu 5 tahun untuk menumpas ISIS di Irak. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 2 setengah tahun dari waktu yang diprediksikan AS, Poros Muqawamah mampu mengusir ISIS dari Irak.

Andai bukan karena dukungan AS terhadap sisa-sisa ISIS dan pemindahan mereka ke timur Furat (yang dikuasai koalisi AS), niscaya kelompok teroris ini sudah musnah dari muka bumi.

Sejak kemenangan Revolusi Islam, AS berangan-angan untuk menggulingkannya dan terus melakukan segala upaya demi hal tersebut.

Dalam perang Iran-Irak, AS mendukung Saddam sepenuhnya. Langkah Washington pun diikuti oleh negara-negara Arab di kawasan.

Namun Iran sanggup mengubah jalannya perang saat itu. Kemajuan yang diraih Iran saat itu terwujud saat masih belum memiliki kekuatan militer dan rudal seperti saat ini.

AS tak pernah berhenti mengumbar ancaman. Namun dalam 40 tahun terakhir ini, tak satu pun ancaman-ancaman yang digelar di atas meja bisa diwujudkan.

Selama perang dan setelahnya, Iran berupaya untuk meraih swasembada dalam bidang produksi persenjataan militer. Kini Iran menjadi sebuah kekuatan militer dan pertahanan, sehingga membuat AS, Israel, dan negara-negara Arab antek mereka cemas luar biasa.

Iran, seperti diakui sendiri oleh AS, sanggup mengontrol kawasan dalam 12 menit. Tapi kontrol ini bukan berarti menduduki sebuah negara, sebab sepanjang sejarahnya, Iran bukan negara agresor. Keberadaan Iran di kawasan adalah penjaminan perlindungan dari dalam dan tidak membiarkan pihak asing seperti AS menduduki negara-negara untuk “merampok dan memerah mereka.” (af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*