Teheran,LiputanIslam.com-Anggota Dewan Penentu Kemaslahatan Negara Iran menyatakan, Rezim Zionis menganggap keputusan Donald Trump soal al-Quds sangat penting, hingga mereka menyebutnya sebagai “Balfour II.”

Namun, menurut Ali Akbar Velayati, mereka telah melakukan penilaian keliru, sebab kondisi saat Deklarasi Balfour tidak sama dengan situasi terkini.

“Saat Inggris memberikan tanah Palestina untuk Zionis pada tahun 1917, muslimin tengah berada dalam tekanan, karena dinasti Ottoman sedang terpuruk usai Perang Dunia I. Muslimin masa itu tidak siap untuk menunjukkan perlawanan seperti saat ini,”tutur Velayati.

Sekarang ini muslimin telah terjaga, karena ada gelombang intifada baru. Bahkan, kata Velayati, kondisi ini memaksa sebagian negara Arab yang biasa tunduk kepada Amerika untuk turut mengecam keputusan Trump.

Mantan menlu Iran menilai, sulit diharapkan bahwa semua negara muslim bisa bersikap tegas di hadapan Zionis dan para pendukungnya. Hal ini lantaran banyak negara yang masih sungkan terhadap Amerika dan berada di bawah tekanan Barat.

“Tidak ada hal lebih yang bisa diharapkan dari OKI. Sebab sebagian negara muslim, diam-diam atau terbuka, masih berhubungan dengan Israel. Mereka hanya mengusung label Islam, tapi tidak memedulikan al-Quds sebagaimana mestinya,”kata Velayati.

Ia menyatakan, Intifada III akan lebih kuat dari sebelumnya. “Intifada II dipicu oleh Ariel Sharon yang memasuki Masjid al-Aqsa dengan sepatunya, dan Israel tak kuasa menghadapinya. Insya Allah, intifada kali ini akan lebih kuat dari intifada-intifada lain,”pungkasnya. (af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL