Tehran,LiputanIslam.com—Rusia menuduh Washington telah menyembunyikan kejahatan yang dilakukan oleh Daesh (ISIL atau ISIS), kelompok teroris takfiri di kota Mosul, Irak.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, menyampaikan tuduhan tersebut pada hari Minggu, beberapa hari setelah juru bicara militer AS Joseph Scrocca mengatakan adanya sebuah video yang menunjukkan upaya Daesh untuk menjadikan AS sebagai umpan dalam pembunuhan warga sipil di Mosul. Sayangnya, rekaman video tersebut belum dirilis.

“Apa motif dibalik sikap AS menyembunyikan kejahatan perang teroris dari masyarakat internasional?” Ucap Konashenkov, seperti yang dirilis Press TV.

“Mengapa koalisi yang dipimpin AS menggunakan ‘bom pintar’ mereka untuk menyerang bangunan dan warga sipil?” tambahnya.

Pada tanggal 17 Maret, AS membombardir sebuah bangunan di desa al-Jadida, Mosul bagian barat. Padahal di tempat itu, pasukan Irak sedang berjuang untuk melawan kelompok takfiri. Lebih dari 200 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak telah tewas dalam serangan udara tersebut.

Pentagon mengakui, dalam sebuah penyataan, bahwa AS telah melakukan serangan fatal. Namun, militer AS mencoba untuk mengklarifikasi apakah yang menyebabkan bangunan runtuh itu AS atau kelompok Daesh.

Pada komentar lainnya, Konashenkov mengatakan bahwa Washington sedang mencari pembenaran atas aksi kejamnya yang telah menewaskan banyak warga sipil itu.

“Pernyataan-pernyataan Pentagon yang tidak masuk akal itu mencoba untuk membenarkan serangan AS yang telah menewaskan banyak korban sipil di Irak.

Konashenkov menyoroti perbedaan penting antara serangan AS di Mosul dan misi pencegahan terorisme yang dilakukan Moskow di Aleppo. Ia mengatakan bahwa Rusia tidak menggunakan angkatan udara dalam aksi pembebasan kota Suriah.

“Pasukan udara Rusia ‘Aerospace’ tidak digunakan sama sekali di Aleppo. Perhatian militer Rusia terfokus pada perlindungan tempat-tempat bersejarah dan pemberian bantuan kemanusiaan bagi warga sipil setempat,” katanya.

“Di Mosul, menurut Scrocca, koalisi untuk melawan kelompok teroris takfiri justru akan semakin kuat, sekalipun perjuangan ini telah meninggalkan korban sipil”, tambah Konashenkov.

Kampanye militer AS terhadap kelompok teroris yang diklaim berada di Suriah dan Irak telah dimulai pada tahun 2014. Kampanya tersebut telah menyebabkan kematian banyak warga sipil tanpa alasan yang jelas.

Awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, meragukan ketulusan kampanye militer anti-teror AS di Suriah.

“Satu tahun berselang, semenjak koalisi ini terbentuk, penyerangan menggunakan angkatan udara untuk menghabisi kelompok Daesh dilakukan dengan cara yang sangat sporadis. Mereka tidak pernah menyentuh truk-truk yang menyelundupkan minyak dari Suriah ke Turki. Secara umum, mereka benar-benar sangat tidak aktif.”katanya.

“Kecurigaan ini masih sangat nyata, ketika Jabhat al-Nusra sudah dua kali berganti nama, namun tetap didukung oleh sponsor yang sama yang terus mengalirkan dana dan apapun yang dibutuhkan oleh kelompok ini,” pungkasnya. (Fd/Tasnim)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL