Riyadh,LiputanIslam.com-Harian al-Sharq menukil dari sejumlah sumber diplomatik bahwa Raja Salman menarik kembali manajemen hubungan dengan tiga negara Arab dari putranya, Muhammad bin Salman (MBS).

Menurut harian terbitan Qatar ini, Raja Salman mengambil langkah tersebut usai memburuknya hubungan Saudi dengan Yordania, Maroko, dan Oman. Hal ini diakibatkan sejumlah kebijakan MBS semenjak dia diangkat sebagai putra mahkota.

Sumber-sumber ini menuturkan, MBS membentuk sebuah pasukan cyber yang terdiri dari ribuan personel guna menyerang negara-negara Arab. Langkah ini tidak sejalan dengan kebijakan Saudi, sebab mempertanyakan para pemimpin negara-negara Arab akan mengeruhkan hubungan dengan mereka. Selain itu, bantuan finansial juga digunakan untuk memberi tekanan kepada sejumlah negara.

Dalam beberapa dekade lalu, Saudi fokus untuk membentuk aliansi strategis dengan negara-negara seperti Maroko, Yordania, dan negara-negara Teluk. Wacana keanggotaan Maroko dan Yordania di GCC pun sempat mengemuka, karena kedua negara ini dianggap sebagai tiang utama untuk membendung ‘pengaruh’ Iran di kawasan.

Menurut sumber-sumber ini, hubungan Saudi dengan negara-negara monarki memburuk. Di saat yang sama, hubungan Riyadh dengan Baghdad dan Damaskus pun lebih keruh dari sebelumnya. Begitu pula hubungan Saudi dengan Tunisia, Aljazair, dan Sudan.

Saudi memiliki barometer utama untuk menjalin hubungan dengan negara lain. Pertama adalah sikap negara tersebut terhadap agresi Saudi ke Yaman, dan kedua, terkait dengan blokade Saudi dan sekutunya atas Qatar.

Maka, jika sebuah negara tidak mendukung agresi Saudi ke Yaman dan blokadenya terhadap Qatar, Riyadh tak akan menjalin hubungan hangat dengannya. Hal inilah yang mengeruhkan hubungan Saudi dengan sejumlah negara Arab, termasuk Kuwait, Aljazair, Maroko, Yordania, dan akhir-akhir ini, Sudan. (af/yjc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*