Raja Salman, Naikh Takhta di Usia 80 Tahun

Raja Salman, Naikh Takhta di Usia 80 Tahun

Riyadh, LiputanIslam.com –Proses suksesi di Kerajaan Arab Saudi berjalan sesuai rencana. Salman bin Abdulaziz, putera mahkota Arab Saudi secara resmi menjadi raja ke-7 Arab Saudi pasca wafatnya Raja Abdullah. Berikut ini adalah berbagai hal dari sisi kehidupan Raja Salman, sebagaimana yang kami rangkum dari berbagai sumber.

Raja Salman lahir pada bulan Desember tahun 1935. Jadi, saat ini ia berusia hampir 80 tahun. Ia adalah putra ke-25 Raja Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi. Dia adalah salah seorang dari tujuh saudara satu ibu satu ayah yang dikenal sebagai “Tujuh Sudairi”. Ibu mereka, Hassa bint Ahmad Al-Sudairi, merupakan istri Raja Abdul Aziz yang paling berpengaruh. Di antara anggota Tujuh Sudairi lainnya adalah almarhum Raja Fahd, almarhum Putra Mahkota Pangeran Sultan, dan almarhum Putra Mahkota Pangeran Nayef.

Sebagaimana diketahui, Raja Fahd adalah raja ke-5 dalam silsilah raja-raja Arab Saudi. Ia bertakhta sejak tahun 1982 hinga 2005. Pengganti Fahd adalah Abdullah yang baru saja mangkat. Awalnya, yang menjadi putera mahkota adalah Pangeran Sultan. Tapi, Pangeran Sultan keburu wafat pada tahun 2010, sebelum sempat menjadi raja. Lalu, ditunjuklah Pangeran Nayef sebagai putera mahkota. Ia pun meninggal tahun 2012. Sebagai penggantinya, diangkatlah Pangeran Salman.

Jadi, Fahad, Sultan, Nayef, dan Salman adalah nama-nama yang sangat berpengaruh dalam dinasti Saudi. Fahad dan Salman berhasil menjadi raja. Adapun Sultan dan Nayef sempat menjadi putera mahkota, meskipun tak berhasil menduduki singgasana karena keburu wafat. Karena trah keluarganya itulah maka Raja Salman pun dikenal selama ini sebagai orang yang sangat berpengaruh.

Sebagaimana para pangeran lainnya, Raja Salman juga dikenal sebagai orang yang kaya-raya. Kekayaannya bahkan disebut-sebut di atas rata-rata para pangeran yang lain. Ia juga disebut-sebut sebagai pemilik utama Saudi Research and Marketing Group (SRMG), perusahaan yang mempublikasikan harianAsharq Al Ausath, Al Iqtishadiyah, dan Arab News. Ia juga memiliki beberapa aliansi kuat dengan jurnalis Al Arabiya TV serta harianElaph.

Secara politik, Salman sangat konservatif. Ia menolak segala bentuk reformasi serta perubahan. Sebuah telegraph yang dikirim Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh pada tahun 2007 dan dirilis situs Wikileaks terkait Pangeran Salman menyebutkan bahwa Salman menentang demokrasi dan kebebasan. Ia meyakini dua hal ini tidak tepat bagi Arab Saudi. Oleh karena itu, Pangeran Salman menentukan batasan ketat bagi kubu konservatif khususnya terhadap reformasi budaya dan sosial.  Anehnya, justru sosok seperti inilah yang sangat disukai oleh Amerika, negara yang selalu berkoar-koar soal demokrasi. Yang pasti, Raja selama ini merupakan sosok yang diterima Gedung Putih dan memiliki hubungan khusus.

Cara pandang politiknya yang sangat konservatif itu tak lepas dari pengalamannya yang sangat panjang di dunia politik. Sejak usia 19 tahun, Salman sudah menjadi walikota Riyadh. Jabatan itu diembannya selama sepuluh tahun. Lalu, di usia 32 tahun, ia menjadi gubernug Riyadh selama 48 tahun. Ia sangat terbiasa dengan cara-cara memerintah yang konservatif.

Gaya hidupnya juga konservatif. Raja Salman memiliki tiga istri dan beberapa putra. Istri pertamanya Sultana binti Turki Alu Sudairi, istri kedua Sarah binti Faishal Alu Subai’ai, dan istri ketiganya adalah Fahda binti Falah bin Sulthan Alu Hitsalain.

Sakit-Sakitan

Dengan segala reputasinya itu, tetap saja banyak yang meragukan kemampuan Raja Salman memegang tampuk tertinggi pemerintahan Arab Saudi. Pasalnya, ia sendiri dikabarkan sakit-sakitan. Ia dikabarkan menderita penyakit pikun alias alkzheimer. Inilah pula yang membuat para pengamat mengkhawatirkan timbulnya gejolak politik di Arab Saudi. Keberadaan orang yang sedang sakit parah sebagai pemimpin negera jelas bukan berita yang baik buat stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan negara tersebut.

Awal bulan lalu, beberapa jam setelah pengumuman pemindahan mendiang Raja Abdullah ke rumah sakit, indeks bursa negara ini mengalami penurunan sebesar lima persen. Yang paling banyak mengalami penurunan adalah perusahaan Petrokimia yang sahamnya turun sampai enam persen.

Lebih dari itu, berbagai media melaporkan adanya persaingan memperebutkan pengganti raja di antara para pangeran yang mayoritasnya mereka telah berusia lanjut. Para pangeran dinasti Saudi, yang masing-masing memiliki klaim sebagai penerus, sangat mungkin akan melihat situasi ini sebagai peluang untuk naik ke posisi tertinggi.

Apa yang akan terjadi di Arab Saudi? Waktu yang akan menjawabnya. (by)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*