Moskow,LiputanIslam.com—Pada Tujuh April lalu, Amerika mengancam akan melancarkan serangan militer ke Suriah berdasarkan atas tuduhan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah di Kota Douma. Prancis, sebagai kerabat Amerika, sempat menyatakan dukungannya atas rencana serangan tersebut. Namun, pemerintah Rusia, Putin, mengingatkan Prancis akan dampak buruk yang dihasilkan apabila Prancis terlibat dalam rencana serangan yang dimotori oleh AS tersebut.

“Hal yang paling penting adalah menahan diri dari dampak buruk yang akan muncul atas pelanggaran piagam PBB serta konsekuensi tak terduga yang mungkin akan terjadi,” ucap salah seorang petinggi Suriah, mengutip obrolan Putin dengan rekan Prancisnya, Macron, pada Jum’at melalui telepon (13/4).

Rusia sebagai salah satu pendukung utama pemerintah Suriah sempat berjanji akan membalas serangan dalam bentuk apapun yang mungkin dilayangkan Amerika ke Suriah. Akibatnya, kejadian ini bisa memicu pertempuran antara militer Amerika (penyerang Suriah) dan militer Rusia (pembela Suriah).

Mengingat komitmen Putin yang tetap teguh membela Suriah, Trump, mulai menurunkan tensi ancamannya ke Suriah. Ia memutuskan untuk menunggu saran dan masukan terlebih dahulu sebelum keputusan akhir dibuat.

Melalui pernyataannya pada Jum’at kemarin, Putin menekankan pentingnya investigasi terlebih dahulu sebelum melancarkan tuduhan kepada seseorang.

Pada Kamis (12/4), Macron menyampaikan bahwa dirinya telah berhasil “membuktikan” tuduhan yang dialamatkan pada pemerintah Suriah. Atas dasar itu, Macron pun berniat untuk merespon tindakan ini.

Namun, Moskow, berulang kali mengingatkan bahwa serangan kimia sengaja dilancarkan oleh kelompok militan untuk memprovokasi Barat agar turut melancarkan serangan ke Suriah melawan pemerintah. (fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*