Madrid,LiputanIslam.com-Pemerintah AS mempersulit proses kunjungan mantan Javier Solana ke negara tersebut karena dia pernah melawat ke Iran. Solana adalah mantan sekjen NATO (1995-1999) dan mantan pejabat urusan luar negeri Uni Eropa (1999-2009).

Situs harian Spanyol, El Pais, mengabarkan bahwa permintaan Solana melalui jalur elektronik untuk diperiksa ihwal perizinan mengunjungi AS telah ditolak. Solana, yang merupakan warga negara Spanyol, sebelum ini pernah melawat ke Teheran pada 2013 untuk menghadiri prosesi pengangkatan presiden Iran.

El Pais mengaitkan penolakan ini dengan instruksi Trump soal larangan imigrasi untuk Iran dan sejumlah negara lain ke AS. Namun tampaknya larangan tersebut tidak akan mencakup warga non-Iran yang akan mengunjungi Negeri Mullah tersebut.

Kejadian ini lebih berkaitan dengan sebuah undang-undang lain yang disahkan Kongres AS pada 2016 lalu dan ditandatangani Barrack Obama sebelum adanya undang-undang imigrasi Trump.

Berdasarkan UU tersebut, warga 38 negara (termasuk Spanyol) yang memiliki perjanjian bebas visa dengan AS, akan dipersulit mengunjungi AS jika pernah berkunjung ke Iran dan beberapa negara lain.

UU ini menyatakan, tiap warga dari 38 negara yang pernah mengunjungi Iran, Suriah, Irak, Sudan, Libya, Somali, dan Yaman sejak Maret 2011, tidak bisa memasuki AS tanpa visa. Mereka harus mengurus visa jika ingin mengunjungi AS.

Menurut El Pais, sumber-sumber di kedutaan AS di Madrid tidak berkomentar soal ‘pencekalan’ kunjungan Solano ke AS. Mereka hanya mengatakan bahwa sistem izin elektronik kunjungan (ESTA) secara otomatis akan menolak permohonan orang-orang yang pernah mengunjungi tujuh negara di atas.

Harian Spanyol ini menyatakan, penolakan ini tidak berarti bahwa pihak yang bersangkutan tidak bisa mengunjungi AS. Itu hanya berarti bahwa dia tidak lagi memiliki hak bebas visa dan harus mengurus visa untuk bisa pergi ke AS. (af/alalam/fars)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*