LiputanIslam.com—Arab Saudi dikenal sebagai negara yang syarat dengan berbagai aturan, termasuk aturan-aturan untuk kaum perempuan. Di Arab Saudi perempuan dianggap sebagai makhluk kelas dua. Karena itu pun kehidupan mereka diatur oleh negara dalam berbagai hal. Meski begitu, banyak aktivis yang protes pada kebijakan pemerintah yang dinilai tidak terhadap kaum perempuan. Dan atas dasar itu, mereka pun menuntut berbagai hal yang bisa membuat keadaan kaum perempuan di Arab Saudi menjadi lebih baik.

Tahun 1955: Sekolah Pertama untuk Perempuan

Di Arab Saudi, sebelum tahun 1955, perempuan tidak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan formal. Namun seiring berjalannya waktu, sekolah pertama untuk kaum perempuan pun dibuka pada tahun 1955. Sekolah itu bernama Dar Al Hanan. Setelah itu, pada tahun 1970 pendidikan pada tingkat universitas untuk kaum perempuan pun dibuka.

Tahun 2001: Kartu Identitas Untuk Perempuan Dikeluarkan

Diawal abad ke 21 itu, para perempuan Saudi akhirnya bisa mendapatkan dan memiliki kartu identitas untuk pertama kalinya. Kartu identitas ini bisa membuat mereka lebih berdaya di mata hukum Saudi, seperti mengurus masalah sengketa warisan dan properti. Namun, saat itu, kartu identitas masih harus didapatkan dengan perantara wali. Jadi, perempuan terkait tidak bisa secara langsung mendapatkan kartu identitas untuk diri mereka. Baru pada tahun 2006 lah kaum perempuan Saudi boleh membuat kartu identitas tanpa perantara.

2005: Berakhirnya Aturan Kawin Paksa

Pada tahun 2005, pemerintah Arab Saudi akhirnya mengeluarkan aturan larangan kawin paksa. Meski begitu, perkawinan perempuan tetap diwakilkan oleh ayah dan calon suami, bukan oleh perempuan yang bersangkutan.

2009: Munculnya Menteri Perempuan Pertama

Inilah adalah catatan penting dalam perjalanan politik kaum perempuan di Arab Saudi. Pada tahun ini, Raja Abdullah menunjuk seorang perempuan untuk menjabat posisi menteri di dalam pemerintahan Arab Saudi. Namanya adalah Noura al-Fayez. Waktu itu dia menjabat sebagai wakil menteri pendidikan untuk urusan perempuan.

2012: Atlet Perempuan Boleh Mengikuti Perlombaan Tingkat Nasional

Pada tahun 2012, perempuan Arab Saudi akhirnya bisa menikmati kebebasan mereka untuk mengikuti olimpiade olahraga tingkat nasional dan internasional. Atlet pertama yang terlibat dalam olimpiade olahraga tingkat nasional adalah Sarah Attar. Sarah adalah pelari perempuan untuk lebel 800 meter. Pada tahun 2012, Sarah mengikuti olimpiade di London dengan memakai kerudung.

2013: Perempuan Baru Diperbolehkan Mengendarai sepeda dan motor

Di negara-negara lain, seperti Indonesia misalnya, kita sering melihat perempuan mengendari motor dan sepeda. Lain halnya dengan Arab Saudi, perempuan di negar aini baru diperbolehkan menaiki dua kendaraan ini sejak tahun 2013. Itu pun dilakukan dengan beberapa syarat, di antaranya adalah hanya boleh dilakukan di tempat rekreasi, menggunakan pakaian tertutup penuh, serta di dampingi oleh saudara laki-lakinya.

2015: Perempuan Baru Dapatkan Hak Memilih dan Dipilih

Pada 2015, pemerintah Arab Saudi baru mengeluarkan aturan yang memperbolehkan kaum perempuan mengikuti pemilihan dan memiliki hak untuk dipilih. Bandingkan dengan Jerman yang telah melakukan hal ini pada tahun 1919 dan New Zealand telah melakukannya pada tahun 1893.

2018: Perempuan Akan Diizinkan Mengemudi

Pada September 2017, Pemerintah Arab Saudi mengumumkan bahwa perempuan baru diperbolehkan mengendarai mobil. Pada Juni 2018, kabarnya kaum perempuan tidak lagi membutuhkan pendamping pria untuk mendapatkan SIM dan mereka tidak diwajibkan membawa pendamping saat mengendarai mobil. (fd/DW)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*