LiputanIslam.com—Serbuan militer koalisi Arab Saudi dan UEA di bandara Kota Hudaydah-Yaman telah memaksa 30.000 warga Yaman untuk meninggalkan rumah mereka dan mengancam 22 juta warga Yaman yang memilih untuk tetap bertahan di Kota Hudaydah, sebagai gerbang utama impor bantuan makanan dan kebutuhan harian lainnya.

10.000 lebih warga Yaman telah meninggal akibat perang yang kini mulai memasuki tahun ke empat itu. Sisanya, sekitar 80 persen warga Yaman berada dalam kondisi mengkhawatirkan dan membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Karena sedikitnya media barat yang berbicara tentang ini, sampai Amnesti Internasional menyebut perang Yaman sebagai “perang yang terlupakan”.

Sekalipun ada beberapa media barat yang mengangkat berita tentang perang Yaman, selalu yang mereka gambarkan adalah perang antara kelompok militant Houthi yang didukung Iran melawan warga Yaman. Media-media tersebut enggan mencerita narasi sesungguhnya yang justru lebih penting, yaitu penjualan senjata AS dan Inggris kepada Arab Saudi dan UEA sebagai aktor utama penyerangan terhadap Yaman.

Asisten Profesir di Universitas Michigan mengatakan, seperti yang dimuat al-Jazeera pada Senin (25/6), bahwa konflik Yaman sengaja dinarasikan dengan cara-cara tertentu sehingga rakyat Amerika dan Inggris salah memahaminya.

“Mereka tidak menyadari bagaimana pemerintah mereka terlibat atas terjadinya bencana peperangan di Yaman. Mereka dibuat percaya bahwa perang yaman itu hanya pertarungan internal yang dikemas sebagai perang sektarian atau perang antara Arab Saudi melawan Iran,” ucapnya.

Padahal, sejak perang dimulai pada 2015 lalu, Amerika dan Inggris telah menjual senjata kepada Arab Saudi saja senilai 12 milyar $. Militer Amerika juga memberikan pelatihan pada orang-orang Saudi yang telah membunuh ratusan warga Yaman.

Piers Robinson, seorang Profesor di Universitas Sheffield, mengatakan bahwa publik dibuat bingung oleh perang Yaman. “Mereka dibingungkan oleh perang Yaman, siapa yang seharusnya disalahkan dan dibenarkan.”

“Ada hubungan yang sangat besar antara politik, ekonomi, dan militer. Publik akan memprotes hal ini jika mereka sadar atas apa yang terjadi secara utuh. Anda harus ingat, ada hubungan yang begitu dekat antara pejabat pemerintah dan para jurnalis,” tambah Robinson.

Tahun lalu, majalah berita CBS melakukan investigasi mendalam tentang perang Yaman dan mengkritisi Arab Saudi tanpa sedetik pun menyebut keterlibatan Amerika dalam konflik tersebut, seperti misalnya penjualan senjata atau bantuan logistik dan militer.(fd/Al-Jazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*