London, LiputanIslam.com—Para eksekutif perusahaan Inggris ternyata mendapatkan uang lebih banyak dengan bekerja 3 hari dibandingkan gaji karyawan mereka selama setahun penuh.

Data ini diambil dari analisis asosiasi profesional manajemen sumber daya manusia Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD), dan badan think tank Inggris, High Pay Center (HPC), pada 2016 lalu.

Berdasarkan penghitungan dari 100 perusahaan Inggris, para CEO ini memiliki pendapatan rata-rata 3,45 juta pounds ($4.7 juta) selama setahun, yaitu 120 kali lebih banyak daripada pendapatan rata-rata pekerja bawahan.

Jika dihitung per-jam, para eksekutif ini dibayar 256 kali lebih banyak dari karyawan.

Sekretaris umum Trades Union Congress (TUC), Frances O’Grady, mengecam tindakan para bos tersebut yang memungut “gaji yang terlihat seperti nomor telepon” sementara para karyawan “menderita pemerasan gaji terbanyak sejak zaman Napoleon.”

Menurut penilaian Sekretaris Jenderal Serikat Buruh GMB, Tim Roache, kesenjangan gaji antara atasan dan pekerja adalah hal yang “menjijikkan.”

“Apakah ada yang berpikir bahwa kucing-kucing gemuk ini layak mendapat gaji 100 kali lebih banyak daripada para pekerja keras yang menopang kerajaan bisnis mereka?” tanya Roache.

Roache mengatakan, Perdana Menteri Inggris Theresa May telah gagal memenuhi janjinya untuk menyelesaikan masalah gaji para eksekutif yang berlebihan.

“Tahun lalu, Theresa May membatalkan janjinya untuk menjamin perwakilan pekerja di dewan perusahaan, sebuah langkah yang sebenarnya akan membantu memperjelas gaji berlebihan perusahaan dan memperbaiki sistem penggajian karyawan yang lebih adil,” lanjutnya.

Analisis menunjukkan, CEO dengan pendapatan tertinggi pada tahun 2016 disandang oleh Martin Sorrell, yang dibayar 48 juta pound ($65 juta) oleh perusahaan periklanan WPP.

Direktur HPC, Stefan Stern, mencatat bahwa kesenjangan gaji antara bos dan pekerja telah melebar lebih dari tiga kali lipat selama 20 tahun terakhir. Sedangkan menurut kepala eksekutif CIPD, Peter Cheese, Inggris harus melakukan “pemikiran ulang atas bagaimana dan mengapa kita mengupah CEO-CEO.” (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*