Jewish HomeTel Aviv, LiputanIslam.com — Wakil Ketua Knesset Israel, Bezalel Smotrich, pada Sabtu lalu menyerukan untuk melakukan pendudukan terhadap Damaskus, ibukota Suriah. Menurutnya, hal itu didasarkan pada kitab suci Taurat.

Berbicara di acara TV Israel Channel 2, Smotrich menyatakan bahwa perbatasan Israel seharusnya melewati Damaskus.

Smotrich, anggota ekstremis partai Jewish Home, menyatakan bahwa untuk sementara, Israel menerima batas-batas wilayah saat ini yaitu di Dataran Tinggi Golan dan Tepi Barat. Namun ia berkomitmen akan bekerja keras untuk bisa mendapatkan wilayah yang menurutnya, telah dijanjikan di dalam Taurat.

Ia juga menyebut bahwa tindakan Israel yang membakar rumah penduduk Palestina di wilayah Dawabsheh bukanlah bentuk terorisme.

Smotrich mengimbau agar para pimpinan warga di pemukiman mengontrol semua tanah di Tepi Barat yang diduduki, dan memastikan bahwa tanah tersebut adalah milik Israel.

“Bagi yang tidak menerima kedaulatan Israel atas Tepi Barat, maka ia harus diusir. Bukankah ada 20 negara-negara Arab di kawasan yang bisa mereka tinggali…”

Semakin menjadi-jadi, Smotrich juga menekankan pentingnya membangun tempat peribadatan Yahudi di Masjid Al-Aqsa.

Oded Yinon Plan, Rencana Pecah Belah Timur Tengah

Oded Yinon Plan, begitu sebutannya. Esai ini awalnya muncul dalam bahasa Ibrani di KIVUNIM (Arah), dalam Journal untuk Yudaisme dan Zionisme, Issue no. 14 – Winter, 5742, Februari 1982, Editor: Yoram Beck. Komite Editorial: Eli Eyal, Yoram Beck, Amnon Hadari, Yohanan Manor, Elieser Schweid. Diterbitkan oleh Departemen Publisitas / Organisasi Zionis Dunia, Yerusalem.

Dalam perhitungan mereka (dan ini terbukti hingga sekarang), bangsa-bangsa Timur Tengah tidak akan terlalu peduli pada dokumen ini dan tidak akan melakukan langkah-langkah strategis untuk melawan rencana dan strategi jangka panjang Zionist ini. Berikut ini isi dari sebagian strategi Oded Yinon tersebut:

Pembubaran total Lebanon ke dalam lima provinsi berfungsi sebagai acuan untuk seluruh dunia Arab, termasuk Mesir, Suriah, Irak, dan semenanjung Arab; dan (situasi Lebanon) sudah mengikuti jalur ini. Pembubaran Suriah dan Irak [akan] menyusul kemudian [yaitu] pemecahan wilayah-wilayah berdasar etnis atau mazhab sebagaimana di Lebanon; ini merupakan target jangka panjang Israhell untuk wilayah timur.

Sementara itu pembubaran kekuatan militer dari negara-negara itu menjadi target jangka pendek Israel. Suriah akan terpecah menjadi beberapa negara sesuai dengan struktur etnis dan agama, seperti di Lebanon saat ini, sehingga akan ada negara Alawy di sepanjang pantainya, negara sunni di wilaya Aleppo, dan negara Sunni lainnya di Damaskus yang akan memusuhi tetangga utaranya; Druze juga akan mendirikan negara, bahkan mungkin di wilayah Golan, dan tentu saja di Hauran dan Yordania Utara. Keadaan ini akan memberikan jaminan bagi perdamaian dan keamanan di kawasan dalam jangka panjang, dan tujuan ini sudah hampir bisa kita capai.

Irak, negara yang kaya minyak di satu sisi, dan terpecah-belah disisi lain, adalah target Israel yang pasti. Pembubaran Irak bahkan lebih penting ketimbang Suriah. Irak lebih kuat dari Suriah. Dalam jangka pendek, kekuatan Irak merupakan ancaman terbesar Israel. Perang Iran-Irak akan memecah-belah Irak dan menyebabkan kekacauan internal sehingga akan mampu mengatur strategi perjuangan melawan kita di front yang luas.

Segala jenis konfrontasi dengan negara-negara Arab akan membantu kita dalam jangka pendek dan akan mempersingkat jalan menuju tujuan yang lebih penting, yaitu memecah-belah, sekaligus juga memecah Suriah dan Lebanon. Di Irak, pembagian negara yang mungkin dilakukan adala menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis etnis atau agama sepertti di Suriah pada masa kekhalifahan Utsmaniyyah. Jadi akan ada tiga (atau lebih) negara yang muncul di sekitar tiga kota utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; daerah Syiah di Selatan akan terpisah dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.

Mitos Mesir sebagai pemimpin yang kuat dari Dunia Arab dihancurkan pada tahun 1956 dan pasti tidak bertahan tahun 1967, tetapi kebijakan kami, seperti dalam kembalinya Sinai (ke Israel), disajikan untuk mengubah mitos menjadi “fakta.” Namun dalam kenyataannya, kekuasaan Mesir secara proporsional baik ke Israel dan ke seluruh Dunia Arab telah turun sekitar 50 persen sejak tahun 1967. Mesir tidak lagi menjadi kekuatan politik terkemuka di Dunia Arab dan ekonominya di ambang krisis.

Tanpa bantuan asing krisis akan segera datang. Dalam jangka pendek, karena kembalinya Sinai (ke Israel), Mesir akan mendapatkan beberapa keuntungan dengan biaya kami, tetapi hanya dalam jangka pendek sampai tahun 1982, dan itu tidak akan mengubah keseimbangan kekuasaan untuk manfaatnya, dan mungkin akan membawa kejatuhannya. Mesir, dalam gambaran politik yang sekarang di dalam negeri sudah mati, lebih-lebih jika kita memperhitungkan tumbuhnya keretakan Muslim-Kristen. Memecah Mesir ke daerah teritorial geografis yang berbeda adalah tujuan politik Israel di era 1980-an di bagian front Baratnya. (Dikutip dari buku Dina Y. Sulaeman: Prahara Suriah)

***

Setelah Israel dengan jelas mempublikasikan dokumen dan strategi mereka, akankah kita masih tetap bertikai mempertentangkan Sunni-Syiah hingga ummat Islam tercerai-berai? Jika ummat Islam sibuk saling serang satu sama lain, bukankah hal ini memuluskan agenda Israel Raya? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL