Tripoli,LiputanIslam.com-PBB memperingatkan meningkatnya jumlah para pengungsi yang melewati Libya dan diperjualbelikan sebagai budak. Para pengungsi ini juga terancam gizi buruk dan eksploitasi seksual.

Othman Belbeisi, kepala bidang imigran PBB di Libya, mengatakan kepada wartawan, para pengungsi dijual seharga 200-500 dolar dan rata-rata dikurung selama dua hingga tiba bulan.

“Dengan meningkatnya kekuatan sindikat penyelundup di Libya, perdagangan manusia menjadi tren biasa di kalangan penyelundup. Mayoritas imigran dipekerjakan di sektor pembangunan dan pertanian. Sebagian dari mereka mendapat upah dan sebagian lain dipaksa bekerja tanpa bayaran,”ungkap Belbeisi.

Menurut Belbeisi, kondisi para imigran wanita lebih memprihatinkan, sebab mereka mengalami pelecehan seksual dan dipaksa untuk menjual diri.

Berdasarkan laporan, para imigran Afrika yang diwawancarai organisasi imigran internasional ini menyatakan, mereka diperjualbelikan di tempat-tempat parkir dan garasi-garasi di kota Sabha, selatan Libya. Kota ini adalah salah satu markas utama sindikat perdagangan manusia.

Seorang imigran asal Senegal mengungkapkan, dia dikurung di sebuah rumah bersama 100 imigran lain dan dipukuli di sana.

Mohammad Abdiker, seorang pejabat IOM (International Organization for Migration), mengatakan,”Kami tahu bahwa para imigran yang terjebak di tangan para penyelundup, terancam gizi buruk, eksploitasi seksual, bahkan pembunuhan. Kami mendapat laporan tentang keberadaan kuburan-kuburan massal di gurun-gurun.”

Libya adalah salah satu titik keberangkatan utama imigran yang menuju Eropa melalui Laut Mediterania. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya 450 ribu imigran telah melalui jalur ini.

Sejak awal tahun 2017 hingga kini, dari sekitar 26.886 pengungsi yang menuju Italia, sedikitnya 600 orang tenggelam di laut dan sejumlah lainnya mati dalam perjalanan menempuh gurun. (af/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL