De MisDamaskus, LiputanIslam.com — Panel PBB khusus Suriah Staffan de Mistura menyebut selama perang yang berlangsung lima tahun, sekitar 400.000 korban jiwa telah jatuh. Berbicara dalam perundingan Suriah yang digelar di Jenewa pada Jumat, jumlah ini berasal dari analisis pribadi, dan belum diverifikasi.

Yang perlu dicatat, PBB sendiri secara resmi telah menghentikan penghitungan korban jiwa, dan artinya, data tersebut belum tentu akurat.

“Dua tahun yang lalu, ada 250.000 korban yang jatuh. Tetapi dua tahun yang lalu tetaplah dua tahun yang lalu,” papar dia, seperti dilansir Press TV (23/4/2016).

Perhitungan PBB ini mendekati dengan jumlah yang disebutkan pada bulan Februari oleh Syrian Center for Policy Reseach, yang menyebut bahwa krisis di negara Timur Tengah ini telah menelan 470.000 korban jiwa. Akibat aksi terorisme yang disponsori oleh negara-negara Barat, Arab dan Israel, banyak penduduk Suriah yang kehilangan tempat tinggal dan kini menjadi pengungsi.

Lima hari sebelumnya, oposisi utama Suriah yang disebut High Negotiations Committe (HNC), menunda partisipasinya dalam perundingan dan meninggalkan forum, untuk menunjukkan protesnya terhadap pemerintah Suriah yang dinilai melakukan kekerasan.

Tuduhan bahwa pemerintah Suriah kejam terhadap rakyatnya memang telah dipropagandakan secara masif selama lima tahun terakhir. Banyak kalangan yang menutup mata, bahwa sebelum adanya krisis pada tahun 2011, Suriah adalah surga.

Baca: Sebelum 2011, Suriah Adalah Surga

Namun lantaran munculnya berbagai kelompok ekstremis di Suriah yang merebut wilayah, mau tak mau, pasukan Suriah bertahan atau harus merebut kembali wilayah melalui jalur militer. Sayangnya, setiap kali ada korban sipil yang jatuh, pemerintah Suriah selalu dikambinghitamkan oleh pihak oposisi, media, dan pemerintah Arab maupun Barat. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL