Washington,LiputanIslam.com-Jaringan Nasional Radio Amerika (NPR) dalam laporannya menyatakan, Muhammad bin Salman (32 tahun) mengunjungi AS untuk pertama kalinya sejak diangkat sebagai putra mahkota Saudi. Hari ini (Selasa 20/3) dia direncanakan menemui Donald Trump, kemudian memulai safari darat selama tiga pekan di AS.

Menurut NPR, MbS menghadapi sebuah masalah besar di AS, yaitu warga negara ini tidak terlalu menyukainya.

Berdasarkan jajak pendapat yang diadakan Lembaga Gallup pada Februari lalu, 55 persen warga AS memiliki pandangan negatif terhadap negara teluk ini. Padahal hubungan ekonomi-militer kedua negara telah terjalin selama 75 tahun. Para petinggi Saudi juga kerap mengunjungi AS. Bahkan, beberapa negara lain yang merupakan musuh bebuyutan AS, seperti China dan Kuba, lebih diterima oleh warga AS.

Menurut Frank Wisner, pandangan negatif warga AS terhadap Saudi memiliki akar kebudayaan. Mantan diplomat AS ini berkata,”Warga AS tidak menerima perlakuan terhadap wanita di Saudi, metode hukuman mati, dan pandangan radikal keagamaan Saudi.”

Bernard Haykel, pakar masalah Saudi di Universitas Princeton, menilai bahwa ketidaksukaan warga AS terhadap Saudi berpangkal pada masalah politik.

“Dari cara peliputan berita-berita tentang Saudi, kita memahami bahwa banyak orang AS dan Barat membenci Saudi,”katanya.

Dalam laporan NPR disebutkan, fase terburuk hubungan AS-Saudi adalah ketika Saudi memboikot ekspor minyak ke AS pada dekade 70 lantaran dukungan Washington terhadap Israel. Hubungan juga sempat memburuk usai kejadian 11/9.

“Saya rasa, masih banyak orang AS yang teringat peristiwa 11/9 saat memikirkan Saudi. Mereka yakin bahwa Saudi berada di balik peristiwa ini atau yang menciptakan prosesnya,”kata Gregory Gause, profesor Hubungan Internasional di Universitas Texas A&M.

Dalam lanjutan laporan NPR disebutkan, Gedung Putih selalu menekankan pentingnya hubungan baik dengan Saudi. Penyebabnya adalah kesamaan pandangan politik kedua belah pihak dalam sejumlah isu. AS dan Saudi memiliki musuh bersama, yaitu al-Qaeda, ISIS, dan sekarang, Iran. (af/alalam/npr)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL