ABCKairo, LiputanIslam.com –Mesir membuka pintu gerbang Rafah, yang memungkinkan penduduk di Jalur Gaza untuk melihat dunia luar setelah mereka terkurung selama hampir tiga bulan.

“Pintu perbatasan akan dibuka selama 48 jam, dan langkah ini diambil atas permintaan dari Otoritas Palestina di Tepi Barat,” papar seorang pejabat Mesir.

Sejak 85 hari penutupan, ada 30.000 orang yang berada dalam daftar tunggu untuk bisa menyeberangi Rafah. Sebagaian besar dari mereka adalah pasien, mahasiswa, dan pemegang izin kerja.

“Saya menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan kesempatan memeriksakan kanker stadium lanjut ke Kairo. Saya harap pemerintah Mesir kembali membuka perbatasan di kesempatan selanjutnya,” ujar Umm Ahmed, 22 tahun, penduduk Gaza, seperti dilansir Press TV (12/5/2016).

Mesir, yang saat ini dipimpin oleh Presiden Abdel Fatah El-Sisi dinilai kurang bersahabat dengan Palestina. Di awal-awal kekuasaannya, ia memerintahkan Tentara Mesir untuk menghancurkan terowongan-terowongan yang digunakan penduduk Gaza.

Setidaknya ada 90 warga Palestina (dan 120 orang lainnya menyusul) yang bekerja di negara-negara lain telah tiba di Bandara Internasional Kairo, memanfaatkan dibukanya Rafah untuk melakukan kunjungan atau kembali ke Gaza.

“Anda tidak akan pernah tahu kapan pintu Rafah terbuka. Jadi ketika Anda ingin mengunjungi keluarga, maka Anda harus siap menanggung resiko yang terkait pekerjaan Anda,” ujar seorang pedagang asal Gaza, yang melakukan bisnis di Teluk Persia.

Pintu Rafah merupakan jalur darat satu-satunya yang menghubungkan sekitar 1,9 juta penduduk di Jalur Gaza dengan Mesir. Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon, telah meminta agar pemerintah Mesir membuat jadwal rutin pembukaan pintu gerbang Rafah, agar lalu lintas bantuan kemanusiaan dapat masuk ke wilayah Gaza. Namun himbauan itu dianggap angin lalu.

Pintu gerbang Rafah lebih sering ditutup, dan hanya dibuka sekali-sekali. Mesir beralasan bahwa penutupan ini dilakukan karena adanya kecurigaan terhadap Hamas di Gaza. Kelompok perlawanan ini disinyalir memainkan peran dalam membantu militansi di wilayah Sinai untuk mendestabilisasi Mesir. Namun tuduhan itu dibantah, dan Hamas menuduh bahwa kebijakan El-Sisi tersebut semata-mata untuk menyenangkan Israel. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL