Tripoli,LiputanIslam.com—Menlu Prancis, Jean-Yves Le Drian, mengatakan pada Kamis (21/12) bahwa faksi-faksi yang bersaing di Libya harus tetap berpegang pada proses perdamaian PBB dan mempersiapkan pemilihan yang akan berlangsung pada musim semi 2018 mendatang.

Negara yang terletak di Afrika Utara tersebut memiliki dua pesaing dalam pemerintahan, satu di wilayah Timur dan yang lainnya di wilayah Barat, Ibu Kota Tripoli. Terpecahnya dua kubu dimulai saat penggulingan Muammar Gaddafi terjadi pada 2011.

Prancis adalah pemain utama di NATO yang melawan Gaddafi dengan cara mengirim pesawat tempur untuk mengebom para tentaranya.

PBB telah menginisiasi perundingan bari pada September di Tunisia antara kedua kubu dalam rangka persiapan pemilihan presiden dan parlemen pada 2018 mendatang.

“Saya mencatat keinginan PM Libya, Fayez al-Seraj, untuk tetap berpegang pada waktu yang sudah ditentukan. Kami sudah menyusun rencana untuk melangsungkan agenda ini,” ucap Le Drian setelah melakukan pertemuan dengan PM Libya di Tripoli.

Drian kemudian terbang ke wilayah timur kota Benghazi untuk bertemu dengan kekuatan militer pimpinan Khalifa Haftar.

Pihak PBB telah menemukan pertanyaan terkait perang yang harus dimainkan oleh Haftar. Sebab, Haftar menyatakan pada Minggu bahwa dirinya ingin mengajukan diri sebagai calon presiden.

Hingga kini, Libya masih tetap menjadi penyumbang utama imigran illegal ke Eropa dengan menggunakan Boat. (fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL