Gaza,LiputanIslam.com-Mesir pada hari Jumat (16/11) dikabarkan meminta dari Hamas agar menghentikan unjuk rasa damai al-Awdah (Kepulangan) selama tiga pekan. Tujuannya adalah agar Kairo bisa menciptakan “gencatan senjata” antara Gaza dan Israel.

Permintaan Mesir ini diajukan saat para pejuang Palestina dalam beberapa hari terakhir menyimpulkan, Israel hanya bisa diajak bicara dengan bahasa ‘kekuatan;’ bahasa yang pada tahap pertama sukses memaksa menteri perang Israel mengundurkan diri. Bahasa ini, dalam tahap-tahap mendatang, kian diharapkan sanggup meruntuhkan pemerintahan Benyamin Netanyahu.

Media-media Israel pada Jumat (16/11) memberitakan kegagalan perundingan Netanyahu dengan menteri pendidikan Rezim Zionis. Artinya, dengan keluarnya partai Naftali dari koalisi dengan kelompok sayap kanan radikal, pemerintahan Rumah Yahudi Netanyahu akan segera jatuh.

Pasca serangan balasan Hamas, situasi di Israel menjadi begitu kacau, sampai-sampai kabinet menentukan 4 tanggal untuk pemilu dini pada tiga atau lima bulan mendatang. Pihak Netanyahu sendiri dikabarkan lebih suka pemilu diadakan pada lima bulan ke depan.

Kemenangan Poros Muqawamah Palestina bukan hanya menggoyahkan pemerintah Israel, tapi dari satu sisi juga mengaburkan masa depan proyek “Kesepakatan Trump.” Dari sisi lain, kemenangan ini mempermalukan para syekh Arab yang saling berlomba mendekatkan diri ke Tel Aviv.

Upaya Mesir kemarin dan kemungkinan usaha dari para syekh Arab untuk membuat kesepakatan damai di masa mendatang, diprediksi akan gagal. Tampaknya, unjuk rasa al-Awdah, yang kini dilakukan dua kali tiap minggu (Senin di laut dan Jumat di darat) secara kontinu, akan terus berkembang secara signifikan. (af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*