Cambridge,LiputanIslam.com—Bagaimana jika seseorang menyampaikan kepada Anda bahwa kedua orang tua Anda tidak diizinkan untuk datang saat acara kelulusan atau Anda tidak dapat melihat mereka lagi untuk selama-lamanya? Perasaan seperti inilah yang sekarang sedang menghantui mahasiswa generasi pertama dan kedua Universitas Harvard. Ketakutan ini disebabkan oleh larangan Presiden Trump untuk membatasi sebagian besar warga Iran, Libya, Suriah, Yaman, Somalia, dan Korea Utara untuk memasuki Amerika. Bahkan, Trump menolak untuk memberikan visa bagi orang-orang Suriah dan Korea Utara.

Pada Selasa malam (17/10), seluruh anggota Masyarakat Islam Harvard bersama dengan Jaringan Anti-Islamofobia menggelar aksi doa bersama menolak aturan larangan bepergian yang dilakukan di bawah mandat Presiden AS, Donald Trump. Sebanyak 50 orang dari latar belakang yang berbeda menghadiri acara tersebut. Acara doa bersama dimulai pada pukul 18:30 waktu setempat oleh komunitas Shalat Maghrib. Mereka yang tidak mengikuti shalat maghrib, turut menyaksikan acara ini dengan seksama.

Anwar Omeish, salah seorang mahasiswi Harvard tahun ketiga mengatakan bahwa kebijakan ini pada akhirnya akan menyakiti banyak pihak dan dapat memisahkan seseorang dari keluarganya.

Mahasiswi lainnya mengatakan bahwa dirinya mempertanyakan sikap sebuah negara (AS) yang kerap berbicara tentang kebebasan, belas kasih, dan terbuka, tetapi pada kesempatan lain, menutup pintu bagi mereka yang sangat membutuhkan.

Sejauh ini, aksi tersebut merupakan aksi pertama yang langsung ditujukan atas kebijakan kontroversial Presiden Trump. Hingga kini, para mahasiswa itu masih menunggu respon pemerintah agar mempermudah izin bagi keluarga mereka yang ingin datang ke Harvard, atau sebaliknya. (fd/VergeCampus)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL