Caracas,LiputanIslam.com-Dilansir dari Sputnik, presiden Venezuela menyatakan, dirinya akan meminta bantuan dari Rusia, Iran, China, Kuba, dan PBB untuk menginvestigasi serangan siber ke negaranya. Serangan siber itu mengakibatkan padamnya listrik di Venezuela selama beberapa hari.

“Kami telah membentuk komite khusus untuk menyelidiki serangan siber baru-baru ini. Para pakar internasional telah diminta untuk bekerjasama dalam hal ini. Saya juga berniat untuk meminta bantuan dari PBB, Iran, China, Rusia, dan Kuba,”kata Nicolas Maduro, sembari menyinggung bahwa Venezuela punya banyak pengalaman dengan serangan siber.

Menurut Maduro, setelah padamnya listrik yang berlangsung hingga lima hari, Venezuela akhirnya bisa mengendalikan situasi akibat serangan siber yang didalangi AS ini. Kemarin Jorge Rodriguez (menteri komunikasi Venezuela) mengumumkan, hampir semua jaringan-jaringan listrik negara ini telah berfungsi kembali.

Sebelum ini, jaksa umum Venezuela menuntut penyelidikan atas dugaan peran Juan Guaido (pemimpin oposisi) dalam kasus padamnya listrik. Maduro pada Senin (11/3) lusa menyebut Donald Trump sebagai dalang serangan siber ke sistem listrik Venezuela.

Sejak 7 Maret lalu, listrik di 20 dari keseluruhan 23 negara bagian Venezuela padam total. Listrik telah menyala kembali pada Selasa malam (12/3).

Perusahaan pemerintah Corpoelec Venezuela menyatakan, padamnya listrik disebabkan sabotase di PLTA Simon Bolivar. Maduro dalam pidatonya menyebut “imperialisme Amerika” sebagai dalang insiden ini. Di pihak lain, kementerian luar negeri AS mengaku, negaranya tidak terlibat sama sekali dalam hal ini. (af/yjc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*