Beirut,LiputanIslam.com-Kantor berita Lebanon mengabarkan, pengadilan negara ini beniat mengkaji pengaduan atas Thamer Sabhan, konsultan pemerintah Saudi dalam urusan Teluk Persia.

Pengaduan ini diajukan oleh Nabih Awada, seorang warga Lebanon yang pernah ditawan di Palestina Pendudukan. Dia mengadukan Sabhan, karena menteri Saudi ini dinilai “telah memecah belah rakyat Lebanon, memprovokasi mereka untuk konflik militer internal, dan berusaha mengeruhkan hubungan Lebanon dengan negara-negara lain.”

Pengaduan ini disampaikan ke pengadilan di akhir Januari. Ghassan Uwaidat, hakim yang menangani berkas ini, dikabarkan telah berencana mengkaji pengaduan tersebut.

Menurut Awada, Sabhan dalam akun Twitter-nya telah menyebabkan Saad Hariri mendapat tekanan. Menteri Saudi ini, kata Awada, telah melanggar kedaulatan Lebanon dan menyulut perselisihan sektarian di negaranya.

Sabhan dalam tweet-nya pada Oktober 2017 mengatakan, Saudi menyebut pemerintah Lebanon sebagai “pemerintah pemberi statemen perang,” lantaran sikap tegas Hizbullah di hadapan Riyadh.

Pengaduan atas Sabhan ini memicu amarah sejumlah warga Saudi di dunia maya. Sebagian menyatakan dukungan mereka terhadap pejabat Saudi ini melalui hastag #kulluna_thamer_sabhan (kami semua adalah Thamer Sabhan).

Beberapa jam usai tersiarnya kabar ini, Sabhan mengunggah tiga bait syair kuno sebagai tanggapan atas langkah pengadilan Lebanon tersebut. Dia tidak memberi penjelasan apa pun selain tiga bait syair itu.

Hubungan Beirut-Riyadh memburuk sejak November tahun lalu. Ketegangan antara kedua pihak mencapai puncaknya, saat para pejabat Lebanon menuduh Saudi telah memanggil Saad Hariri ke Riyadh dan memaksanya mengundurkan diri.

Ini bukan kali pertama Sabhan menyebabkan hubungan Saudi memburuk dengan negara lain. Sebelum ini, usai menjadi dubes Saudi untuk Irak pasca terputusnya hubungan kedua negara selama 25 tahun, dia berulangkali bersikap sinis terhadap al-Hashd al-Shaabi. Relawan rakyat Irak, yang saat itu tengah memerangi ISIS, ini disebutnya sebagai kelompok sektarian dan pemicu perselisihan mazhab di Irak.

Belakangan dia mengklaim menjadi target teror sebuah kelompok tak dikenal. Dia juga menuduh pemerintah Irak tidak melakukan tindakan pengamanan mencukupi untuknya. Harian al-Sharq al-Awsat mengklaim, peneror adalah kelompok Syiah yang dikendalikan Iran. Namun tak ada satu pun bukti yang bisa mereka tunjukkan. Baghdad menyebut tuduhan ini sebagai pelanggaran terhadap kedaulatannya.

Akhirnya Baghdad kehilangan kesabarannya atas ulah Sabhan. Pada Oktober 2016, Irak meminta agar Saudi segera mengganti dubesnya di Baghdad. (af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*