Najeeb al-Omari bersama dengan putrinya Shalma (digendong), Salma, dan Lamia di depan rumah mereka di Yaman.

Sana’a,LiputanIslam.com—Ribuan keluarga keturunan Yaman-Amerika terpaksa tinggal di Djibouti atau kembali ke Yaman karena larangan bepergian yang dikeluarkan oleh Trump.

Presiden Amerika, Donald Trump, memang telah menerapkan aturan larangan bepergian ke Amerika terutama bagi warga dari negara-negara Muslim, salah satunya adalah Yaman. Dampak larangan ini dirasakan secara langsung oleh keluarga Najeeb al-Omari, salah seorang keluarga keturunan Yaman-Amerika yang kini masih terlunta-lunta di tengah krisis yang melanda Yaman. Putrinya yang menderita gangguan mental akibat perang Yaman, tidak mendapatkan visa untuk pergi ke Amerika.

Al-Omari, yang telah resmi menjadi warga AS itu, masih terus berupaya untuk mendapatkan visa bagi putrinya bernama Shaima (11 th), istrinya Asma, dan dua putri lainnya bernama Salma (8 th) dan Lamiya (6 th).

“Saya sudah lakukan semuanya; semua yang saya punya saya jual, saya ketok semua pintu untuk meminta bantuan,” ucap al-Omari sambil menggendong Shaima.

“Aturan larangan bepergian itu telah memutuskan harapan kami,” ucapnya.

Aturan larangan bepergian Trump versi ke tiga baru saja diberlakukan secara penuh pada 8 Desember lalu, meski kebijakan ini mendapatkan tantangan dari pengadilan. Aturan ini membatasi warga dari lima mayoritas negara Muslim, seperti Iran, Libya, Somalia, Suriah, dan Yaman, serta beberapa orang dari Venezuela dan Korut, untuk masuk ke Amerika.

Sementara itu, dari seluruh negara yang dimasukkan dalam daftar larangan, beberapa di antaranya tengah dilanda perang. Seperti Yaman dan Suriah. Karena itu, jumlah imigran dari negara ini melonjak tajam karena rakyatnya ingin terhindar dari kehancuran yang disebabkan oleh perang. Amerika sudah jelas menutup pintu untuk mereka, yang artinya sama dengan menutup pintu untuk kemanusiaan. Padahal, konflik yang terjadi di beberapa negara itu juga melibatkan campur tangan Amerika. Ada pasukan Amerika yang bergerak dan terlibat perang di beberapa negara itu. (fd/al-Jazeera)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*