PrisonTeheran, LiputanIslam.com — Jaksa penuntut umum Iran telah mengirim Mohammad Hossein Bagheri ke sel tahanan karena melarang anaknya pergi ke sekolah. Tindakan seperti ini, menurut undang-undang Iran adalah sebuah pelanggaran, apalagi jika tidak ada alasan yang cukup kuat.

“Bagheri telah melanggar Undang-undang tentang Perlindungan hak anak-anak dan remaja dengan melarang anaknya bersekolah. Karena tidak ada alasan yang membenarkan tindakan ini, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama empat bulan untuknya,” tulis IRNA dalam laporannya, (28/1/2016).

Dalam keadaan diembargo puluhan tahun, Iran sangat memperhatikan perkembangan pendidikan bagi warga negaranya. Tak heran, jika liputan khusus Detik.com pada Maret 2015 lalu ke Iran mengungkapkan berbagai kemajuan Iran.

“Dalam embargo, pendidikan di Iran turut menjadi lebih digdaya. Jumlah mahasiswanya kini mencapai lebih dari 4,1 juta orang. Berkat embargo itu, kegiatan Riset and Development  (R&D) Iran ikut maju pesat. Pada tahun 2013 lalu, R&D Iran mencapai sekitar empat persen dari GDP. Kegiatan riset itu tampak secara kasat mata melalui pameran yang diadakan pemerintah Iran di pusat-pusat penelitian dan teknologi, yang mereka sebut dengan nama Technology Park.

Jumlah ‘Technology Park’ -nya kini mencapai 32 buah, dan salah satu yang terbesar adalah Pardis Technology Park, di Teheran. Pardis yang diklaim sebagai Silicon Valley-nya Iran itu Februari 2015 lalu juga pernah dikunjungi oleh Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi Indonesia, Muhammad Nasir. Saat itu terjadi pembicaraan untuk menggalang kerjasama riset dan pendidikan antara Indonesia dan Iran,” tulis Detik.com. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL