Presiden Rusia, Vladimir Putin dan PM Israel, Benjamin Netanyahu.

LiputanIslam.com—Tertembaknya pesawat militer Rusia di langit Suriah telah menyebabkan krisis baru yang cukup rumit, dan kejadian kali ini terpaksa membuat Israel harus berhadapan dengan Rusia.

Dua tahun lalu, Turki pernah menembak jatuh pesawat Rusia. Akibatnya, Turki terpaksa harus bersitegang dengan Rusia dan berujung pada krisis politik antar kedua negara, bahkan hampir berakhir pada konfrontasi militer. Pada saat itu, untuk mengakhiri krisis, Erdogan pun meminta maaf kepada Rusia. Babak baru hubungan Turki-Rusia pun kembali dibuka, dengan hubungan kerjasama dalam berbagai hal, termasuk penanganan krisis di Suriah.

Insiden tertembaknya pesawat Rusia ini terbilang sebagai insiden yang cukup serius. Pesawat militer Rusia yang hendak menuju pangkalan udara Khmeimim ini telah diserang dan seluruh awak yang berjumlah 15 orang itu pun meninggal dunia.

Militer Rusia sempat menyatakaan bahwa pesawat militernya dihantam oleh sistem pertahanan Suriah yang berusaha menepis serangan dari Israel ke Latakia. Meski begitu, militer Rusia tetap menyalahkan Israel. Sebab, insiden ini tidak akan terjadi apabila Israel tidak mengerahkan jet-jet tempurnya di langit Suriah. Karenanya, Rusia pun memanggil dubes Israel untuk Moskow, sebagai bukti kemarahan dan kecaman Rusia atas kejadian ini.

Seperti kita ketahui sebelumnya, Israel terus melakukan berbagai serangan terhadap orang-orang Suriah dan Iran di Suriah, tanpa secara langsung terlibat konfrontasi dengan pasukan Rusia. Israel sadar betul bahwa konfrontasi dengan pasukan Rusia akan sangat tidak menguntungkan bagi mereka. Karena itulah, ia membuat perjanjian yang mengatur pola serangan di Suriah agar terhindar dari konflik dengan pasukan Rusia.

Meski begitu, insiden ini telah mencederai perjanjian yang telah dibuat. Akankah kejadian ini mengubah pola “pertarungan” di Suriah? Pola pertarungan di Suriah mungkin akan mengalami perubahan, walaupun dalam skala kecil.

Bagi Rusia, kejadian ini merupakan peluang emas yang mungkin akan mereka gunakan untuk memojokkan pergerakan militer Israel di Suriah serta mendukung aliansinya, seperti Iran dan Suriah.

PM Netanyahu pasti akan segera bergerak dan menyatakan permintaan maafnya kepada Rusia, meski tetap akan menyalahkan pasukan Suriah atas kejadian itu. Sikap ini dipandang perlu untuk menjinakkan amukan Rusia dan menghindari konflik antara Israel-Rusia yang nantinya akan berdampak pada pergerakan militernya di Suriah. Tekanan yang akan diberikan Moskow kepada Israel pun mungkin tidak terlalu besar, mengingat hubungan antar kedua negara terbilang cukup dalam dan kompleks.

Tapi yang pasti, setidaknya Israel akan berhenti sejenak melancarkan serangan-serangannya ke Suriah sambil menunggu suasana yang tegang ini mencair kembali. (fd/memo)

*Tulisan ini disarikan dari opini yang ditulis oleh Fahed Khitan berjudul “A Russia-Israel Confrontation in Syria

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*