139405221423321775868744LiputanIslam.com-Abdel Bari Atwan, redaktur Ray al-Yaum, menulis sebuah artikel terkait hubungan Saudi-Mesir yang terus memburuk. Dalam artikelnya, ia menyinggung terbentuknya koalisi baru segi empat (Mesir, Suriah, Irak, dan Aljazair) melawan koalisi pimpinan Saudi.

“Dalam wawancara dengan televisi Portugal, Selasa (22/11), el-Sisi mendukung penuh Suriah dalam menghadapi kelompok teroris dan upayanya menjaga keutuhan wilayahnya. Pernyataan ini ibarat menabur garam di atas hubungan Mesir-Saudi yang tengah terluka,”tulis Atwan.

Pasca pernyataan ini, Mesir dihujani kritik pedas oleh situs-situs internet Arab. Negara-negara sekitar Teluk Persia, terutama Saudi, mengungkit bantuan 50 milyar dolar mereka guna menjaga stabilitas pemerintahan el-Sisi dan ekonomi Mesir. Mesir dituduh tak tahu membalas budi.

Menurut Atwan, hubungan antara Mesir dan Saudi tengah menjalani saat-saat kritis. Hubungan ini bisa kian memburuk setelah penyambutan hangat Raja Salman atas kunjungan Perdana Menteri Ethiopia, Hailemariam Desalegn. Para pengamat Mesir mengatakan, tindakan Raja Salman adalah ‘cibiran’ terhadap Kairo, sebab Mesir dan Ethiopia berselisih dalam masalah bendungan an-Nahdhah.

“Sangat jelas bahwa Presiden Mesir memilih jalur menuju Persaudaraan Baru, yaitu Suriah, Aljazair, Iran, dan Irak. Secara bertahap, Mesir mulai meninggalkan Persaudaraan Lama negara-negara Teluk.

“Poros Mesir, Aljazair, Irak, dan Suriah yang didukung Iran serta Rusia bisa membuat perimbangan strategis di Dunia Arab kini. Otomatis, poros baru ini akan membatasi dominasi poros Saudi terkait kebijakan negara-negara Arab yang telah berlangsung sekira sepuluh tahun. Jika perang Aleppo dan Mosul telah berakhir, tiada keraguan bahwa poros baru ini akan kian menguat,”pungkas Atwan. (af/tasnimnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL