Benjamin Ladraa

LiputanIslam.com—Namanya adalah Benjamin Ladra, seorang aktivis asal Swedia yang berjalan kaki sejauh 4.800 KM untuk Palestina. Semuanya bermula pada April 2017 lalu, saat Benjamin melakukan kunjungan ke Palestina. Di sana ia menyaksikan tindakan diskriminatif yang sistematis pemerintah Israel dan mendengar langsung kekejaman yang dilakukan militer Israel kepada orang-orang Palestina. Setelah menyaksikan semua itu, Benjamin pun bertekad untuk menyadarkan dunia tentang pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan militer Israel dengan cara berjalan kaki dari negeri asalnya, Swedia menuju Palestina.

Sambil membawa bendera Palestina dan sebuah sorban yang terkalung dilehernya, Benjamin pun memulai perjalanan kemanusiaan itu pada 8 Agustus 2017. Tanggal ini dipilih Benjamin karena pada hari itu peringatan 100 tahun Deklarasi Balfour dilaksanakan. 15 negara telah dilaluinya, meliputi beberapa negara Eropa, kemudian Turki, Lebanon, dan Yordania. Berjalan kaki sejauh 4.800 KM itu memakan waktu hingga 11 bulan, pada akhirnya Benjamin sampai di perbatasan Israel, pintu masuk menuju Palestina.

Dokumen pelarangan masuk bagi Benjamin Ladraa ke wilayah kependudukan oleh pemerintah Israel.

Di perbatasan ini, langkah Benjamin terhenti setelah petugas perbatasan Israel melarangnya untuk memasuki wilayah Israel. Tidak hanya Benjamin, beberapa aktivis lainnya pun mengalami hal serupa. Benjamin sempat diinterogasi oleh petugas selama enam jam. Petugas Israel itu menuduh Benjamin akan bergabung dalam aksi demonstrasi di daerah Nabi Saleh.

Karena perjalanannya ini, Benjamin pun mulai dikenal dunia dan diwawancarai oleh banyak media. Ia banyak berbicara dan memberikan pidato tentang alasan dan tujuan perjalanannya itu, serta mengunjungi kamp-kamp pengungsian dan mengundang warga Palestina yang terusir untuk berbagi pengalaman.

“Saya percaya bahwa kita harus menekan pemerintah Israel untuk menghentikan kejahatan yang mereka lakukan terhadap orang-orang Palestina,” ucapnya. “Tekanan ini harus dilakukan oleh banyak orang, dan cara agar banyak orang ikut terlibat menekan Israel adalah dengan mengabarkan mereka tentang situasi yang terjadi, karena kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.”

Benjamin telah meng-upload perjalanannya melalui media sosial dengan #walktopalestine, yang kini telah memiliki 20.000 follower.

“Aku berharap agar suatu saat, penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang hidup di tanah suci akan berhenti,” ucapnya.

Perjalanan kemanusiaan Benjamin memang tidak selalu berjalan mulus. Banyak negara dan orang-orang yang memujinya, tetapi banyak pula yang menghalangi perjalanan tersebut. Di Praha, Jerman, dia pernah ditahan oleh kedutaan Israel karena bendera Palestina yang dibawanya. Pernah juga ia harus ditahan sebanyak enam kali dalam sehari, saat transit di Yunani. Tak hanya itu, ia pun sempat ditahan oleh polisi Bulgaria selama tiga jam saat dirinya mencoba menyeberangi perbatasan.

“Silahkan tanya diri Anda, mengapa Israel sangat ketakutan dengan seorang pemuda Swedia sampai mereka tidak mengizinkannya untuk memasuki wilayah kependudukan? Inilah kekuatan aktivisme,” tulisnya di Facebook.

Pada 7 Juli lalu, Presiden Mahmoud Abbas pun memberikan penghargaan pada Benjamin atas solidaritas yang ia tunjukkan untuk orang-orang Palestina.

“Atas nama rakyat dan pemimpin Palestina, kami menyampaikan terimakasih yang mendalam kepada Benjamin Ladraa atas keberanian dan integritasnya mengungkap berbagai bentuk pelanggaran Israel terhadap tanah dan sumber daya Palestina. Kami akan tetap berhutang budi kepada Benjamin Ladraa,” ucap Abbas. (fd/PNN)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*