Philadelphia,LiputanIslam.com-Dalam wawancara dengan PressTV, Minggu (12/3), Dave Lindorff, seorang jurnalis dan analis politik, menganalisis ketegangan antara Turki dan Belanda serta hubungan Turki yang kian memburuk dengan Uni Eropa.

“Kita harus ingat bahwa kedua negara ini adalah anggota NATO. Apa yang kita saksikan ini adalah salah satu tanda keruntuhan NATO secara bertahap. Apalagi negara-negara anggota NATO di Eropa Barat juga bersikap negatif terhadap Turki,”ungkap Lindorff.

Ketegangan Turki-Belanda kian meningkat setelah pesawat Menlu Turki dilarang mendarat di Belanda. Sabtu (11/3), Mark Rutte, PM Belanda, menyatakan bahwa pelarangan ini dilakukan akibat permintaan Turki untuk mengadakan pertemuan massal.

Turki mengancam akan memberlakukan embargo atas Belanda jika kunjungan Chavusoglu ke Amsterdam dibatalkan.

Erdogan mengkritik keputusan Belanda dan menyebut langkah ini mengingatkannya akan tindakan Nazi. Ankara menyatakan akan melakukan tindakan serupa terhadap Belanda.

Menurut Lindorff, kini NATO sedang berada di bawah tekanan. Ketegangan antara dua anggotanya kian memperbesar problem yang dihadapinya.

Perundingan perihal bergabungnya Turki ke Uni Eropa telah menemui kegagalan. Tahun lalu, Parlemen Eropa menangguhkan perundingan dengan dalih kekhawatiran atas pelanggaran HAM dan berkuasanya UU di Turki.

Lindorff menyatakan, ada banyak kendala yang menghalangi Turki menjadi anggota Uni Eropa, di antaranya adalah pemberlakuan hukuman mati dan tiadanya kebebasan pers di Turki.

Lindorff berpendapat, jajak pendapat tentang reformasi UUD Turki yang akan memperluas wewenang presiden Turki adalah bentuk kediktatoran Erdogan.

“Semakin keras usaha Erdogan untuk memperluas kekuasaannya, semakin sulit pula bagi Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa,”pungkasnya. (af/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL