KualaLumpur,LiputanIslam.com-Menteri Pertahanan Malaysia mengumumkan, negaranya tidak akan bergabung dalam latihan militer yang diadakan Uni Emirat Arab (UEA). Menurut Mohammad Sabu, dengan keputusan ini, Malaysia bisa menghemat biaya senilai 36 juta ringgit.

Dalam wawancara dengan media, Sabu juga menyatakan, pengeluaran militer Malaysia telah berkurang usai keluar dari koalisi Saudi yang menggempur Yaman.

Dia menegaskan, negaranya kini hanya akan menyertakan pasukannya dalam operasi penjagaan perdamaian atas permintaan PBB.

“Jika terjadi konflik antara sejumlah negara, kami memutuskan untuk tidak mengirim tentara kami ke negara-negara tersebut,”kata Sabu.

Menhan Malaysia menegaskan, kebijakan utama negaranya adalah bersikap netral. Atas dasar inilah, Kuala Lumpur menarik pasukannya dari koalis Saudi dan perang Yaman.

Seperti diketahui, Saudi dengan dukungan UEA, AS, dan sejumlah negara lain mengagresi Yaman pada Maret 2015 serta memblokade negara tersebut dari darat, laut, dan udara.

Pemerintahan Najib Razak (mantan PM Malaysia) saat itu mengklaim, tentara Malaysia dikirim untuk mengevakuasi warga Malaysia dari Yaman dan melakukan program kemanusiaan. Pasukan Malaysia berada di Saudi sejak tahun 2016.

Sabu menyebut perang Yaman sebagai sebuah “bencana.” Dia mengatakan, Malaysia bisa memainkan peran penting di OKI yang diikuti 57 negara Muslim untuk menemukan solusi krisis Yaman.

Menhan Malaysia menegaskan, ketidakhadiran negaranya di latihan militer yang dinamakan “Desert Eagle” tidak memengaruhi hubungan diplomatik Kuala Lumpur-Abu Dhabi.

“Malaysia akan meningkatkan hubungan dengan UEA di bidang lain, seperti pendidikan dan kesehatan, namun tak akan mengirim tentara ke negara-negara lain,”tandasnya. (af/alalam/irna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*