Karbala, LiputanIslam.com –Jutaan orang, Muslim dan juga non-Muslim, saat ini berada di Irak dalam rangka memperingati Hari Duka Arbain. Arbain adalah peringatan 40 hari dari peristiwa duka Asyura yaitu hari terbunuhnya Husein bin Ali di Karbala. Sebagian besar dari peziarah datang dengan melakukan jalan kaki dari Najaf ke Karbala yang berjarak sekitar 80 kilometer.

Peringatan Arbain yang melibatkan jutaan orang itu dipandang sebagai pameran solidaritas dan persatuan Muslim terbesar di dunia. Mereka datang bersama-sama untuk menyatakan duka atas kematian tragis cucu Nabi Muhammad.

Pawai longmarch tahun ini sudah dimulai hampir dua minggu lalu dan akan berakhir pada hari Sabtu, 19 Oktober. Pria dan wanita, tua dan muda, balita di kereta bayi dan orang tua didorong kursi roda, menuju peringatan Arbain. Para peziarah mengalir melewati tenda-tenda yang membagikan makanan gratis mulai dari telur orak hingga lobak rebus. Makanan lengkap disajikan pada siang hari dan di malam hari, juga gratis.

Pada hari Arbain tahun ini jumlah peziarah diperkirakan lebih dari 20 juta. “Saya berjalan kaki ke Karbala yang suci karena kami mencintai Imam Husein,” kata seorang peziarah Iran berusia 40 tahun kepada Alwaght.  Ia masuk ke Irak melalui perbatasan Chazabeh.  “Imam Husein adalah seorang manusia merdeka. Dia memberontak melawan penindasan. Dia memilih kebebasan. Dan itulah yang menarik kami, menginspirasi kami, kaum Syiah.”

Peziarah lain, dari Pakistan, mengatakan kepada Alwaght bahwa dia datang dari negara tetangga karena dia menganggap perjalanan itu baik dan layak. “Imam Hussein mengorbankan hidupnya tidak hanya untuk umat Islam tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Dia adalah orang yang membayar harga untuk mencari jalan yang benar,” katanya. “Kami berharap kami bisa menjadi pengikut yang sesungguhnya baginya,” lanjutnya sambil berhenti di sebuah tenda yang didirikan oleh kelompok sukarelawan Iran.

Tenda-tenda dibentuk secara sukarela oleh orang-orang yang percaya bahwa memberikan layanan kepada para peziarah Imam Husein adalah salah satu bentuk nyata dari kesetiaan di jalan Imam, sekaligus memperkuat persaudaraan di antara umat Islam.

“Kami menyediakan makanan, tiga kali sehari, kepada para peziarah. Kami bangga akan hal itu. Kami pikir itu akan menarik lebih banyak peziarah tahun depan. Ini adalah pertunjukan konvergensi dunia Muslim,” kata seorang sukarelawan pemilik tenda kepada Alwaght.

Sayyed Hussein Javid, imam Masjid London, mengomentari Arbain, dan mengatakan kepada Kantor Berita Fars tahun lalu bahwa umat Islam melakukan longmarch puluhan kilometer karena kharisma besar Imam Hussein. “Cinta padanya unik dan tak terlukiskan,” lanjutnya. Sayyed Jacvid juga menyampaikan apresiasinya kepada para peziarah Eropa yang pergi ke Karbala.

Berdasarkan data statistik, Iran adalah negara yang mengirimkan jumlah peziarah terbesar. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa sejauh ini lebih dari 3 juta visa dikeluarkan untuk warga negara Iran yang ingin melakukan perjalanan ke Irak.

Tiga penyeberangan perbatasan dengan Irak, Mehran, Chazabeh, dan Shalamcheh, telah beroperasi selama dua minggu terakhir untuk sebagai pintu masuk ke Irak. Sejak minggu lalu, mereka bekerja sepanjang waktu untuk memberikan layanan kepada semua peziarah.

Pemerintah Irak juga memberikan perhatian yang sangat istimewa untuk even peringatan Arbain ini. Bagaimanapun juga, Arbain dari tahun ke tahun makin kolosal, dan menjadi peristiwa agama yang melibatkan peserta terbesar di dunia. Untuk itu, selain menyediakan makanan, berbagai layanan disediakan untuk para peziarah. Jalan raya baru dibangun untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah peziarah di kedua sisi perbatasan. Layanan WiFi gratis disediakan di sepanjang jalan. Operator seluler dan perusahaan telekomunikasi dari Irak dan Iran telah menyediakan layanan. Perusahaan Telekomunikasi Iran telah mengatakan bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan operator seluler Irak untuk layanan panggilan dan SMS yang lebih murah.

Peringatan Arbain ini menarik orang-orang dari berbagai negara. Mereka datang dari negara-negara Eropa, Azerbaijan, Turki, Afghanistan, Pakistan, Armenia, Lebanon, Rusia, dan AS serta banyak negara lainnya. Banyak yang melakukan perjalanan ke Iran dan berjalan ke kota suci melalui penyeberangan perbatasan Iran. Wisatawan dari negara tetangga Afghanistan, Pakistan, Azerbaijan, dan Turki telah tiba di Iran dari perbatasan barat laut dan timur. Kota-kota Tabriz dan Zahedan telah menerima peziarah dari empat negara tetangga. Pekan lalu, 45.000 warga Afghanistan memasuki Iran untuk hari peringatan.

Kondisi keamanan stabil di Irak dilaporkan stabil. Tentara dan polisi Irak dimobilisasi untuk memberikan keamanan bagi jutaan peziarah tersebu. Irak mengalami hari-hari yang lebih stabil dan aman daripada tahun-tahun sebelumnya, ketika tentara Irak dibantu oleh Iran, berhasil mengalahkan kelompok teroris ISIS di negara itu pada 2017. (os/alwaght)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*