davidIstanbul, LiputanIslam.com — Turki telah melarang masuk wartawan Amerika Serikat (AS) yang tinggal dan bekerja di negara tersebut. David Leperka, koresponden lepas yang menulis untuk The Guardian, Al Jazeera, Foreign Affairs dan media-media lainnya, ditolak masuk di Bandara Internasioanal Istanbul.

Setelah menunggu sekitar 20 jam di bandara, akhirnya diberi pilihan apakah ia akan ke Italia (yang menjadi tujuan akhir perjalanannya setelah selesai di Turki), atau pulang kembali ke AS.

“Saya dilarang masuk, dan sudah konfirmasi bahwa status larangan ini berlangsung secara permanen,” kisah dia, seperti diungkap Reuters (26/4/2016).

Baca: Tahan Kolumnis, Erdogan Diolok-olok Media Belanda

Awalnya tidak jelas mengapa ia dilarang masuk. Namun seorang pejabat Turki menyebutkan bahwa hal itu sesuai dengan hukum yang berlaku di Turki, yang melarang masuk wartawan yang tidak memiliki mandat pers yang benar.

Peristiwa serupa juga terjadi pada hari Sabtu lalu. Seorang fotografer asal Yunani, Giorgos Moutafis, yang bertugas untuk tabloid Bild di Jerman juga ditolak untuk kembali ke Istanbul oleh petugas bandara.

Wartawan dari dunia internasional umumnya bukan hanya fokus pada para migran yang mencari suaka ke Eropa, tetapi mereka juga bekerja di lokasi-lokasi pertempuran di kota Kurdi (Ayn al-Arab atau Kobane), Suriah.

“Saya diberitahu oleh petugas yang memeriksa paspor bahwa nama saya ada dalam daftar hitam, yang artinya saya tidak boleh masuk ke Turki. Kemudian paspor tersebut disita hingga pagi, hingga terpaksa saya menghabiskan malam di bandara. Hanya saja, mereka tidak menjelaskan mengapa saya dimasukkan ke dalam daftar hitam,” terang Giorgios.

Pemerintah Turki sendiri memang saat ini kebanjiran kritik baik lokal maupun internasional, atas kebijakanya yang sangat represif terhadap pers. Banyak jurnalis maupun blogger yang ditahan hanya karena mencuitkan kritikan di media sosial. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL