Washington,LiputanIslam.com-Harian al-Sharq al-Awsat  menurunkan tulisan yang menyoroti ketulusan Donald Trump terkait penarikan pasukan AS dari Suriah.

Dalam kolomnya, situs harian terbitan London ini menyinggung keputusan menggemparkan presiden AS pada 19 Desember lalu, yaitu rencana untuk menarik pasukan negaranya “dengan segera” dari timur Eufrat, Suriah. Konsekuensi dari keputusan ini adalah AS akan membiarkan milisi Kurdi dalam menghadapi gempuran Turki.

Namun, kini bahasa Trump berubah. Dia mengatakan, pasukan AS akan mundur dari Suriah “secara perlahan.” Lindsey Graham, senator dari Partai Republik, juga mengutip ucapan Trump  bahwa “AS tidak akan keluar dari Suriah sampai dipastikan bahwa ISIS sudah dikalahkan.”

Di sisi lain, saat mengunjungi pangkalan Ain al-Asad di barat Irak, Trump berjanji akan mempertahankan pasukan AS di Negeri Seribu Satu Malam. Pertanyaannya: apa perbedaan antara Suriah dan Irak, yang keduanya merupakan negara bertetangga?

Turki juga mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap pernyataan terbaru AS. Washington mengatakan, rencana AS untuk keluar dari Suriah tidak berarti bahwa Paman Sam menghentikan dukungan kepada sekutu Kurdinya. Jubir kepresidenan Turki bahkan terang-terangan menyebut milisi Kurdi di timur Eufrat sebagai “ISIS Kurdi.”

Menurut al-Sharq al-Awsat, bisa dipastikan bahwa Trump mengambil kebijakan yang licik, baik dia sedang mundur dari keputusan untuk menarik pasukan AS, atau sedang melakukan manuver sementara di hadapan tekanan para figur militer, politisi, dan media-media liberal (yang tiba-tiba mendukung intervensi militer di dunia). Entah tulus atau hanya sandiwara, yang pasti adalah bahwa jika AS keluar dari pintu Timur Tengah, ia akan kembali lagi melalui jendela-jendelanya. (af/yjc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*